Entri Populer

Kamis, 13 Januari 2011

Sejarah Situ Lengkong

Legenda Situ lengkong 
Bermula dari Air Sumur Zam-Zam

Situ Lengkong, di daerah Panjalu, Ciamis, adalah danau alam yang indah dengan
airnya yang bening. Namun, di balik keindahan itu, Situ Lengkong bukan danau
biasa. Air yang bening itu berasal dari percikan air Sumur Zam-Zam Makkah.
Pemerintah Kerajaan Panjalu pada masa lalu menetapkan larangan mengotori telaga
ini. Tujuannya agar rakyat Panjalu senantiasa bersih dan suci. Roda pemerintahan
Kerajaan Panjalu dikendalikan raja-raja yang arif dan bijaksana.

SELAIN itu, raja-raja Panjalu dikenal memiliki kesaktian yang tinggi. Riwayat
Situ Lengkong sendiri terbentuk pada masa peralihan dari Sang Prabu Sanghiang
Cakradewa ke Prabu Sanghiang Borosngora. Dua raja tersebut adalah paling
termasyhur dalam sejarah Panjalu. Sewaktu di puncak tahta, Prabu Cakradewa
dikenal pula sebagai raja yang lebih mementingkan kerohanian daripada
keduniawian. Tak heran bila rakyat Panjalu hidup aman dan tenteram.

Prabu Cakradewa

Dalam hal mendidik anaknya, Prabu Cakradewa lebih mementingkan pendidikan
kerohanian. Raja menghendaki putra-putri dan rakyatnya hidup rukun, saling
sayang menyayangi, dan jauh dari sifat iri dengki serta sombong. Prabu
Borosngora untuk melanjutkan tahta Kerajaan Panjalu, Prabu Cakradewa
menginginkan putra mahkota penggantinya adalah seorang yang sakti dengan ilmu
kesejatian. Maka, sebelum tahta diserahkan kepada putra mahkota Prabu Borosngora,
ia memerintahkan Prabu Borosngora untuk berkelana menuntut ilmu sejati.

Setelah berpamitan, berangkatlah Prabu Borosngora memenuhi perintah ayahnya.
Bertahun-tahun ia mengembara mencari ilmu sejati. Selama dalam pengembaraan, ia
banyak bertemu dengan tokoh-tokoh sakti. Kepada merekalah ia menuntut ilmu. Tapi
sayang, Borosngora salah langkah. Ia bukan mempelajari ilmu sejati seperti
amanat ayahnya, melainkan ilmu kekebalan. Setelah merasa cukup menguasai ilmu,
kembalilah ia ke keraton untuk menemui ayahnya. Atas kehadiran anakya itu Prabu
Cakradewa sangat gembira. Maka disambutlah ia dengan upacara kebesaran. Seluruh
kerabat keraton serta para bangsawan dan rakyat diundang menghadiri acara
tersebut.

Sebagai hiburan, digelar kesenian Debus dan Tayub. Beberapa kerabat keraton dan
Prabu Borosngora turut menari. Di tengah keramaian itu, Prabu Cakradewa terkejut
ketika melihat kain yang dikenakan Prabu Borosngora tersingkap. Di balik kain
itu tampak jelas di betis kaki kirinya terdapat tanda hitam berupa cap Ujung
Kulon. Itu menandakan bahwa orang tersebut telah mempelajari ilmu hitam dan
kedugalan. Padahal Prabu Cakradewa mengharap Borosngora untuk mempelajari ilmu
sejati. Yakni ilmu kerahayuan dan keselamatan lahir batin dunia dan akhirat.
Melihat hal tersebut, Prabu Sanghiang Cakradewa memerintahkan seorang patih
untuk memanggilnya ke keraton.

Orang Berjubah Putih

Sanghiang Cakradewa memberi petuah. Diungkap bahwa Sang Prabu punya firasat
buruk. Suatu saat akan lahir suatu ilmu baru yang akan menguasai berbagai ilmu
di belahan dunia. Lalu Sanghiang Prabu Cakradewa menyarankan Borosngora untuk
mempelajari ilmu sejati demi kepentingan kerajaan. Dalam pencarian ilmu sejati
inilah, Prabu Borosngora berkelana sampai ke Makkah. Di sana ia bertemu seorang
tua berjubah putih. Dialah Sayyidina Ali ra.

Dalam pertemuan itu, Prabu Borosngora dan Sayyidina Ali sempat menjajal
kedigdayaan. Namun Prabu Borosngora takluk di hadapan Sayyidina Ali. Sejak itu,
ia memeluk Islam dan berguru ilmu sejati kepada Sayyidina Ali. Setelah cukup, ia
kembali ke tanah airnya dengan membawa segayung air Sumur Zam-Zam. Air inilah
yang menjadi cikal bakal terjadinya Situ Lengkong. Telaga keramat ketika Prabu
Borosngora naik tahta, pamor Kerajaan Panjalu semakin terhormat.

Prabu Borosngora adalah raja yang tangguh, gagah, dan terampil mengelola
pemerintahan. Selain ilmu kedigdayaan, ia pun menguasai ilmu sejati. Ia begitu
dicintai rakyat. Dan selama mengayomi rakyatnya, tak pernah terdengar adanya
perbuatan menyimpang. Selama menjadi raja, ia telah membangun telaga indah yang
disebut Situ Lengkong, yang airnya berasal dari Sumur Zam-Zam. Di tengahnya ada
sebuah pulau mungil bernama Nusa Gede. Di sanalah keraton Kerajaan Panjalu
berdiri.

Pemandangan yang indah itu mengesankan kenyamanan bagi siapa pun yang tinggal di
Panjalu. Sejalan perkembangan zaman, Kerajaan Panjalu mengalami kemunduran.
Hingga lama kelamaan Panjalu hanya menjadi daerah kecamatan di sebelah utara
Ciamis. Namun kemasyhuran tinggalan masa lampau masih tertanam. Pulau Nusa Gede
yang dulunya keraton, kini adalah tempat dimakamkannya beberapa raja Panjalu.
Sebagai tokoh yang dihormati, tak heran bila banyak yang menziarahi.

Tokoh-Tokoh Besar

Tokoh-tokoh besar seperti Gus Dur dan Megawati, konon pernah berziarah ke makam
tersebut. Bahkan Gus Dur sendiri menyebut tokoh yang dimakamkan di Pulau Nusa
Gede itu Kiai Panjalu, yakni Sayyit Ali bin Muhammad bin Umar. Beliau Mbah buyut
ke-19 Almaghfurlah KH Mustaqim bin Husein, pendiri Pondok Pesantren PETA
Tulungagung, Jatim.

Cantolan sejarah yang berkait dengan Situ Lengkong hingga kini masih ada di
Panjalu. Selain makam keramat di Pulau Nusa Gede, terdapat juga Bumi Alit (museum)
tempat menyimpan benda-benda pusaka Kerajaan Panjalu, serta Masjid Agung Panjalu.
Menurut masyarakat setempat, berziarah ke makam keramat di tengah Situ Lengkong
itu tidak boleh sembarangan.

Pernah suatu ketika, Pakubuwono VIII masuk ke Pulau Nusa Gede. Namun tiba-tiba
terjadi angin puting beliung. Air danau yang tenang jadi bergelombang. Karena
cuaca buruk, akhirnya niat Pakubuwono diurungkan. Setelah reda dicoba lagi. Tapi
kembali cuaca mendadak menjadi buruk. Konon, Pakubuwono VIII tak pernah bisa
mencapai Pulau Nusa Gede.

Sumber: Posmo 
Kerajaan Panjalu Ciamis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

(Dialihkan dari Sejarah Panjalu Ciamis)

Untuk Kerajaan Panjalu yang terletak di Jawa Timur, lihat Kerajaan Kadiri

Lokasi Kerajaan Panjalu pada peta Jawa Barat

Panjalu adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang terletak di kaki Gunung Sawal
(1764 m dpl) Jawa Barat. Secara geografis pada abad ke-13 sampai abad ke-16 (tahun
1200-an sampai dengan tahun 1500-an) Kerajaan Panjalu berbatasan dengan Kerajaan
Talaga, Kerajaan Kuningan, dan Cirebon di sebelah utara. Di sebelah timur
Kerajaan Panjalu berbatasan dengan Kawali (Ibukota Kemaharajaan Sunda 1333-1482),
wilayah selatannya berbatasan dengan Kerajaan Galuh, sedangkan di sebelah barat
berbatasan dengan Kerajaan Galunggung dan Kerajaan Sumedang Larang.
Daftar isi [sembunyikan]

1 Asal mula

2 Kekuasaan Kabataraan (Tahta Suci)

3 Hubungan dengan Kemaharajaan Sunda

4 Kaitan dengan Kerajaan Panjalu (Kediri) di Jawa Timur

5 Ibukota Panjalu

5.1 Karantenan Gunung Sawal

5.2 Dayeuhluhur Maparah

5.3 Nusa Larang

5.4 Dayeuh Nagasari Ciomas

5.4.1 Silsilah Ciomas Panjalu

5.5 Dayeuh Panjalu

6 Masuknya Islam dan Pengaruh Cirebon

7 Pengaruh Mataram

8 Masa VOC dan Hindia Belanda

9 Silsilah Panjalu

9.1 Batara Tesnajati

9.2 Batara Layah

9.3 Batara Karimun Putih

9.4 Prabu Sanghyang Rangga Gumilang

9.5 Prabu Sanghyang Lembu Sampulur I

9.6 Prabu Sanghyang Cakradewa

9.7 Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II

9.8 Prabu Sanghyang Borosngora

9.8.1 Sanghyang Borosngora dan Hyang Bunisora

9.8.2 Sanghyang Borosngora dan Baginda Ali RA

9.8.3 Sanghyang Borosngora, Walangsungsang dan Kian Santang

9.8.4 Sanghyang Borosngora versi Sejarah Cianjur

9.9 Prabu Rahyang Kuning

9.10 Prabu Rahyang Kancana

9.11 Prabu Rahyang Kuluk Kukunangteko

9.12 Prabu Rahyang Kanjut Kadali Kancana

9.13 Prabu Rahyang Kadacayut Martabaya

9.14 Prabu Rahyang Kunang Natabaya

9.15 Raden Arya Sumalah

9.16 Pangeran Arya Sacanata atau Pangeran Arya Salingsingan

9.17 Raden Arya Wirabaya

9.18 Raden Tumenggung Wirapraja

9.19 Raden Tumenggung Cakranagara I

9.20 Raden Tumenggung Cakranagara II

9.21 Raden Tumenggung Cakranagara III

9.22 Raden Demang Sumawijaya

9.23 Raden Demang Aldakusumah

10 Situ Lengkong

11 Nyangku

12 Bumi Alit

13 Daftar Para Batara, Raja, Bupati dan Demang Panjalu Beserta Pusara/Petilasannya

14 Mitos Maung Panjalu

15 Referensi 

[sunting] Asal mula

Panjalu berasal dari kata jalu (bhs. Sunda) yang berarti jantan, jago, maskulin,
yang didahului dengan awalan pa (n). Kata panjalu berkonotasi dengan kata-kata:
jagoan, jawara, pendekar, warrior (bhs. Inggeris: pejuang, ahli olah perang),
dan knight (bhs. Inggeris: kesatria, perwira).

Ada pula orang Panjalu yang mengatakan bahwa kata panjalu berarti "perempuan"
karena berasal dari kata jalu yang diberi awalan pan, sama seperti kata male (bhs.
Inggeris : laki-laki) yang apabila diberi prefiks fe + male menjadi female (bhs.Inggeris
: perempuan). Konon nama ini disandang karena Panjalu pernah diperintah oleh
seorang ratu bernama Ratu Permanadewi.

Mengingat sterotip atau anggapan umum watak orang Panjalu sampai sekarang di
mata orang Sunda pada umumnya, atau dibandingkan dengan watak orang Sunda pada
umumnya, orang Panjalu dikenal lebih keras, militan juga disegani karena konon
memiliki banyak ilmu kanuragan warisan dari nenek moyang mereka, oleh karena itu
arti kata Panjalu yang pertama sepertinya lebih mendekati kesesuaian.

Menurut Munoz (2006) Kerajaan Panjalu Ciamis (Jawa Barat) adalah penerus
Kerajaan Panjalu Kediri (Jawa Timur) karena setelah Maharaja Kertajaya Raja
Panjalu Kediri terakhir tewas di tangan Ken Angrok (Ken Arok) pada tahun 1222,
sisa-sisa keluarga dan pengikut Maharaja Kertajaya itu melarikan diri ke kawasan
Panjalu Ciamis. Itulah sebabnya kedua kerajaan ini mempunyai nama yang sama dan
Kerajaan Panjalu Ciamis adalah penerus peradaban Panjalu Kediri.

Nama Panjalu sendiri mulai dikenal ketika wilayah itu berada dibawah
pemerintahan Prabu Sanghyang Rangga Gumilang; sebelumnya kawasan Panjalu lebih
dikenal dengan sebutan Kabuyutan Sawal atau Kabuyutan Gunung Sawal. Istilah
Kabuyutan identik dengan daerah Kabataraan yaitu daerah yang memiliki kewenangan
keagamaan (Hindu) seperti Kabuyutan Galunggung atau Kabataraan Galunggung.

Kabuyutan adalah suatu tempat atau kawasan yang dianggap suci dan biasanya
terletak di lokasi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, biasanya di bekas
daerah Kabuyutan juga ditemukan situs-situs megalitik (batu-batuan purba)
peninggalan masa prasejarah.

[sunting] Kekuasaan Kabataraan (Tahta Suci)

Pendiri Kerajaan Panjalu adalah Batara Tesnajati yang petilasannya terdapat di
Karantenan Gunung Sawal. Mengingat gelar Batara yang disandangnya, maka
kemungkinan besar pada awal berdirinya Panjalu adalah suatu daerah Kabataraan
sama halnya dengan Kabataraan Galunggung yang didirikan oleh Batara Semplak Waja
putera dari Sang Wretikandayun (670-702), pendiri Kerajaan Galuh.

Daerah Kabataraan adalah tahta suci yang lebih menitikberatkan pada bidang
kebatinan, keagamaan atau spiritual, dengan demikian seorang Batara selain
berperan sebagai Raja juga berperan sebagai Brahmana atau Resiguru. Seorang
Batara di Kemaharajaan Sunda mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan penting
karena ia mempunyai satu kekuasaan istimewa yaitu kekuasaan untuk mengabhiseka
atau mentahbiskan atau menginisiasi penobatan seorang Maharaja yang naik tahta
Sunda.

Menurut sumber sejarah Kerajaan Galunggung, para Batara yang pernah bertahta di
Galunggung adalah Batara Semplak Waja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu,
Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang. Berdasarkan keterangan Prasasti Geger
Hanjuang, Batari Hyang dinobatkan sebagai penguasa Galunggung pada tanggal 21
Agustus 1111 M atau 13 Bhadrapada 1033 Caka. Kabataraan Galunggung adalah cikal
bakal Kerajaan Galunggung yang dikemudian hari menjadi Kabupaten Sukapura atau
Tasikmalaya).

Besar kemungkinan setelah berakhirnya periode kabataraan di Galunggung itu
kekuasaan kabataraan di Kemaharajaan Sunda dipegang oleh Batara Tesnajati dari
Karantenan Gunung Sawal Panjalu. Adapun para batara yang pernah bertahta di
Karantenan Gunung Sawal adalah Batara Tesnajati, Batara Layah dan Batara Karimun
Putih. Pada masa kekuasaan Prabu Sanghyang Rangga Gumilang atau Sanghyang Rangga
Sakti putera Batara Karimun Putih, Panjalu berubah dari kabataraan menjadi
sebuah daerah kerajaan.

Diperkirakan kekuasaan kabataraan Sunda kala itu dilanjutkan oleh Batara Prabu
Guru Aji Putih di Gunung Tembong Agung, Prabu Guru Aji Putih adalah seorang
tokoh yang menjadi perintis Kerajaan Sumedang Larang. Prabu Guru Aji Putih
digantikan oleh puteranya yang bernama Prabu Resi Tajimalela, menurut sumber
sejarah Sumedang Larang, Prabu Resi Tajimalela hidup sezaman dengan Maharaja
Sunda yang bernama Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Prabu Resi Tajimalela
digantikan oleh puteranya yang bernama Prabu Resi Lembu Agung, kemudian Prabu
Resi Lembu Agung digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Gajah Agung yang
berkedudukan di Ciguling. Dibawah pemerintahan Prabu Gajah Agung, Sumedang
Larang bertransisi dari daerah kabataraan menjadi kerajaan.

Kekuasaan kabataraan di Kemaharajaan Sunda kemudian dilanjutkan oleh Batara
Gunung Picung yang menjadi cikal bakal Kerajaan Talaga (Majalengka). Batara
Gunung Picung adalah putera Suryadewata, sedangkan Suryadewata adalah putera
bungsu dari Maharaja Sunda yang bernama Ajiguna Linggawisesa (1333-1340), Batara
Gunung Picung digantikan oleh puteranya yang bernama Pandita Prabu Darmasuci,
sedangkan Pandita Prabu Darmasuci kemudian digantikan oleh puteranya yang
bernama Begawan Garasiang. Begawan Garasiang digantikan oleh adiknya sebagai
Raja Talaga yang bernama Sunan Talaga Manggung dan sejak itu pemerintahan Talaga
digelar selaku kerajaan.

[sunting] Hubungan dengan Kemaharajaan Sunda

Kemaharajaan Sunda adalah suatu kerajaan yang merupakan penyatuan dua kerajaan
besar di Tanah Sunda yang saling terkait erat, yaitu Kerajaan Sunda yang
didirikan Maharaja Tarusbawa (669-723) dan Kerajaan Galuh yang didirikan Sang
Wretikandayun (670-702). Kedua kerajaan tersebut dipersatukan kembali dibawah
satu mahkota Maharaja Sunda oleh cicit Wretikandayun bernama Sanjaya (723-732).

Putera Sena atau Bratasenawa (709-716) Raja Galuh ketiga ini sebelumnya bergelar
Rakeyan Jamri dan setelah menjadi menantu Maharaja Sunda Tarusbawa diangkat
menjadi penguasa Kerajaan Sunda bergelar Sang Harisdarma. Sang Harisdarma
setelah berhasil menyatukan Galuh dengan Sunda bergelar Sanjaya. Sunda dan Galuh
sebelumnya adalah pecahan dari Kerajaan Tarumanagara (358-669).

Berdasarkan peninggalan sejarah seperti prasasti dan naskah kuno, ibu kota
Kerajaan Sunda berada di daerah yang sekarang menjadi kota Bogor yaitu Pakwan
Pajajaran, sedangkan ibu kota Kerajaan Galuh adalah yang sekarang menjadi kota
Ciamis, tepatnya di Kawali. Namun demikian, banyak sumber peninggalan sejarah
yang menyebut perpaduan kedua kerajaan ini dengan nama Kerajaan Sunda saja atau
tepatnya Kemaharajaan Sunda dan penduduknya sampai sekarang disebut sebagai
orang Sunda.

Panjalu adalah salah satu kerajaan daerah yang termasuk dalam kekuasaan
Kemaharajaan Sunda karena wilayah Kemaharajaan Sunda sejak masa Sanjaya (723-732)
sampai dengan Sri Baduga Maharaja (1482-1521) adalah seluruh Jawa Barat termasuk
Provinsi Banten dan DKI Jakarta serta bagian barat Provinsi Jawa Tengah, yaitu
mulai dari Ujung Kulon di sebelah barat sampai ke Sungai Cipamali (Kali Brebes)
dan Sungai Ciserayu (Kali Serayu) di sebelah timur.

Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kemaharajaan Sunda juga mencakup Provinsi
Lampung sekarang sebagai akibat dari pernikahan antar penguasa daerah itu, salah
satunya adalah Niskala Wastu Kancana (1371-1475) yang menikahi Nay Rara Sarkati
puteri penguasa Lampung, dan dari pernikahan itu melahirkan Sang Haliwungan yang
naik tahta Pakwan Pajajaran (Sunda) sebagai Prabu Susuktunggal (1475-1482),
sedangkan dari Nay Ratna Mayangsari puteri sulung Hyang Bunisora (1357-1371),
Niskala Wastu Kancana berputera Ningrat Kancana yang naik tahta Kawali (Galuh)
sebagai Prabu Dewa Niskala (1475-1482).

Lokasi Kerajaan Panjalu yang berbatasan langsung dengan Kawali dan Galuh juga
menunjukkan keterkaitan yang erat dengan Kemaharajaan Sunda karena menurut
Ekadjati (93:75) ada empat kawasan yang pernah menjadi ibukota Sunda yaitu:
Galuh, Parahajyan Sunda, Kawali, dan Pakwan Pajajaran.

Kerajaan-kerajaan lain yang menjadi bagian dari Kemaharajaan Sunda adalah:
Cirebon Larang, Cirebon Girang, Sindangbarang, Sukapura, Kidanglamatan, Galuh,
Astuna Tajeknasing, Sumedang Larang, Ujung Muhara, Ajong Kidul, Kamuning Gading,
Pancakaki, Tanjung Singguru, Nusa Kalapa, Banten Girang dan Ujung Kulon (Hageman,1967:209).
Selain itu Sunda juga memiliki daerah-daerah pelabuhan yang dikepalai oleh
seorang Syahbandar yaitu Bantam (Banten), Pontang (Puntang), Chegujde (Cigede),
Tanggerang, Kalapa (Sunda Kalapa), dan Chimanuk (Cimanuk) (Armando Cortesao,
1944:196).

Kaitan lain yang menarik antara Kemaharajaan Sunda dengan Kerajaan Panjalu
adalah bahwa berdasarkan catatan sejarah Sunda, Hyang Bunisora digantikan oleh
keponakan sekaligus menantunya yaitu Niskala Wastu Kancana yang setelah mangkat
dipusarakan di Nusa Larang, sementara menurut Babad Panjalu tokoh yang
dipusarakan di Nusa Larang adalah Prabu Rahyang Kancana putera dari Prabu
Sanghyang Borosngora.

Ada dugaan Sanghyang Borosngora yang menjadi Raja Panjalu adalah Hyang Bunisora
Suradipati, ia adalah adik Maharaja Linggabuana yang gugur di palagan Bubat
melawan tentara Majapahit pada tahun 1357. Hyang Bunisora menjabat sebagai
Mangkubumi Suradipati mewakili keponakannya yaitu Niskala Wastu Kancana yang
baru berusia 9 tahun atas tahta Kawali . Hyang Bunisora juga dikenal sebagai
Prabu Kuda Lelean dan Batara Guru di Jampang karena menjadi seorang petapa atau
resi yang mumpuni di Jampang (Sukabumi). Tentunya perlu penelitian lebih lanjut
untuk memastikan dugaan ini.

Sementara itu sumber lain dari luar mengenai kaitan Panjalu dengan Sunda yakni
dari Wawacan Sajarah Galuh memapaparkan bahwa setelah runtuhnya Pajajaran, maka
putera-puteri raja dan rakyat Pajajaran itu melarikan diri ke Panjalu, Kawali,
dan Kuningan.

[sunting] Kaitan dengan Kerajaan Panjalu (Kediri) di Jawa Timur

Pendiri Kerajaan Kahuripan adalah Airlangga atau sering pula disingkat Erlangga,
yang memerintah tahun 1009-1042, dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu
Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Nama Airlangga berarti air
yang melompat. Ia lahir tahun 990. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri
Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan
Bedahulu, Bali dari Wangsa Warmadewa.

Airlangga memiliki dua orang adik, yaitu Marakata (menjadi raja Bali sepeninggal
ayah mereka) dan Anak Wungsu (naik takhta sepeninggal Marakata).

Menurut Prasasti Pucangan, pada tahun 1006 Airlangga menikah dengan putri
pamannya yaitu Dharmawangsa (saudara Mahendradatta) di Watan, ibu kota Kerajaan
Medang. Tiba-tiba kota Watan diserbu Raja Wurawari dari Lwaram, yang merupakan
sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam serangan itu, Dharmawangsa tewas, sedangkan
Airlangga lolos ke hutan pegunungan (wanagiri) ditemani pembantunya yang bernama
Mpu Narotama. Saat itu ia berusia 16 tahun, dan mulai menjalani hidup sebagai
pertapa. Salah satu bukti petilasan Airlangga sewaktu dalam pelarian dapat
dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jawa Timur.

Nama kerajaan yang didirikan Airlangga pada umumnya lazim disebut Kerajaan
Kahuripan. Padahal sesungguhnya, Kahuripan hanyalah salah satu nama ibukota
kerajaan yang pernah dipimpin Airlangga. Setelah tiga tahun hidup di hutan,
Airlangga didatangi utusan rakyat yang memintanya supaya membangun kembali
Kerajaan Medang. Mengingat kota Watan sudah hancur, Airlangga pun membangun
ibukota baru bernama Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan. Nama kota ini
tercatat dalam Prasasti Cane (1021).

Menurut Prasasti Terep (1032), Watan Mas kemudian direbut musuh, sehingga
Airlangga melarikan diri ke desa Patakan. Berdasarkan prasasti Kamalagyan (1037),
ibu kota kerajaan sudah pindah ke Kahuripan (daerah Sidoarjo sekarang).

Menurut Prasasti Pamwatan (1042), pusat kerajaan kemudian pindah ke Daha (daerah
Kediri sekarang). Berita ini sesuai dengan naskah Serat Calon Arang yang
menyebut Airlangga sebagai raja Daha. Bahkan, Nagarakretagama juga menyebut
Airlangga sebagai raja Panjalu yang berpusat di Daha.

Ketika Airlangga naik takhta tahun 1009, wilayah kerajaannya hanya meliputi
daerah Sidoarjo dan Pasuruan saja, karena sepeninggal Dharmawangsa, banyak
daerah bawahan yang melepaskan diri. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah
menyusun kekuatan untuk menegakkan kembali kekuasaan Wangsa Isyana atas pulau
Jawa.

Pada tahun 1023 Kerajaan Sriwijaya yang merupakan musuh besar Wangsa Isyana
dikalahkan Rajendra Coladewa, Raja Colamandala dari India. Hal ini membuat
Airlangga merasa lebih leluasa mempersiapkan diri menaklukkan pulau Jawa.
Penguasa pertama yang dikalahkan oleh Airlangga adalah Raja Hasin. Pada tahun
1030 Airlangga mengalahkan Wisnuprabhawa Raja Wuratan, Wijayawarma Raja Wengker,
kemudian Panuda Raja Lewa.

Pada tahun 1031 putera Panuda mencoba membalas dendam namun dapat dikalahkan
oleh Airlangga. Ibu kota Lewa dihancurkan pula.

Pada tahun 1032 seorang raja wanita dari daerah Tulungagung sekarang berhasil
mengalahkan Airlangga. Istana Watan Mas dihancurkannya. Airlangga terpaksa
melarikan diri ke Desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala. Airlangga membangun
ibu kota baru di Kahuripan. Raja wanita itu akhirnya dapat dikalahkannya. Dalam
tahun 1032 itu pula Airlangga dan Mpu Narotama mengalahkan Raja Wurawari,
membalaskan dendam Wangsa Isyana.

Terakhir, pada tahun 1035 Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma Raja
Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota
Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.

Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi
kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti
peninggalannya antara lain.

Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.

Membangun Bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.

Memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat
Surabaya sekarang.

Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.

Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.

Memindahkan ibukota dari Kahuripan ke Daha.

Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa
menulis Arjuna Wiwaha yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut
menceritakan perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan
Airlangga mengalahkan Wurawari.

Pada tahun 1042 Airlangga turun takhta menjadi pendeta. Menurut Serat Calon
Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad
Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah
prasasti Gandhakuti (1042) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi
Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Menurut cerita rakyat, putri mahkota Airlangga menolak menjadi raja dan memilih
hidup sebagai pertapa bernama Dewi Kili Suci. Nama asli putri tersebut dalam
prasasti Cane (1021) sampai Prasasti Turun Hyang (1035) adalah Sanggramawijaya
Tunggadewi.

Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih pengganti karena
kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat dirinya juga putra raja
Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya
yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali mengajukan niat tersebut namun
mengalami kegagalan.

Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama
Marakata sebagai Raja Bali, dan Marakata kemudian digantikan adik yang lain
yaitu Anak Wungsu.

Airlangga terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi
menetapkan perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini
tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan Prasasti Turun Hyang II.
Maka terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut Panjalu atau Kadiri
berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan
kerajaan timur bernama Janggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan,
diperintah oleh Mapanji Garasakan.

Dalam prasasti Pamwatan, 20 November 1042, Airlangga masih bergelar Maharaja,
sedangkan dalam Prasasti Gandhakuti, 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi
Aji Paduka Mpungku. Dengan demikian, peristiwa pembelahan kerajaan diperkirakan
terjadi di antara kedua tanggal tersebut. Tidak diketahui dengan pasti kapan
Airlangga meninggal. Prasasti Sumengka (1059) peninggalan Kerajaan Janggala
hanya menyebutkan, Resi Aji Paduka Mpungku dimakamkan di tirtha atau pemandian.

Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah Candi
Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu
disertai dua dewi. Berdasarkan Prasasti Pucangan (1041) diketahui Airlangga
adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat
diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri
Samarawijaya dan ibu Mapanji Garasakan.

Pada Candi Belahan ditemukan angka tahun 1049. Tidak diketahui dengan pasti
apakah tahun itu adalah tahun kematian Airlangga, ataukah tahun pembangunan
candi pemandian tersebut.

Maharaja Jayabhaya adalah Raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157.
Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara
Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Pemerintahan
Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa
prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta
Kakawin Bharatayuddha (1157).

Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat
semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan
sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada
Kadiri selama perang melawan Janggala. Dari prasasti tersebut dapat diketahui
kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan
mempersatukannya kembali dengan Kadiri. Kemenangan Jayabhaya atas Janggala ini
disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha
yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.

Sri Maharaja Kertajaya adalah raja terakhir Kadiri yang memerintah sekitar tahun
1194-1222. Pada akhir pemerintahannya, ia dikalahkan oleh Ken Arok dari Tumapel
atau Singhasari, yang menandai berakhirnya masa Kerajaan Kadiri.

Nama Kertajaya terdapat dalam Nagarakretagama (1365) yang dikarang ratusan tahun
setelah zaman Kadiri. Bukti sejarah keberadaan tokoh Kertajaya adalah dengan
ditemukannya Prasasti Galunggung (1194), Prasasti Kamulan (1194), Prasasti Palah
(1197), dan Prasasti Wates Kulon (1205). Dari prasasti-prasasti tersebut dapat
diketahui nama gelar abhiseka Kertajaya adalah Sri Maharaja Sri Sarweswara
Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.

Dalam Pararaton, Kertajaya disebut dengan nama Prabu Dandhang Gendis. Dikisahkan
pada akhir pemerintahannya ia menyatakan ingin disembah para pendeta Hindu dan
Buddha. Tentu saja keinginan itu ditolak, meskipun Dandhang Gendis pamer
kesaktian dengan cara duduk di atas sebatang tombak yang berdiri.

Para pendeta memilih berlindung pada Ken Arok, bawahan Dandhang Gendis yang
menjadi akuwu di Tumapel. Ken Arok lalu mengangkat diri menjadi raja dan
menyatakan Tumapel merdeka, lepas dari Kadiri. Dandhang Gendis sama sekali tidak
takut. Ia mengaku hanya bisa dikalahkan oleh Siwa. Mendengar hal itu, Ken Arok
pun memakai gelar Bhatara Guru (nama lain Siwa) dan bergerak memimpin pasukan
menyerang Kadiri.

Perang antara Tumapel dan Kadiri terjadi dekat Desa Ganter tahun 1222. Para
panglima Kadiri yaitu Mahisa Walungan (adik Dandhang Gendis) dan Gubar Baleman
mati di tangan Ken Arok. Dandhang Gendis sendiri melarikan diri dan bersembunyi
naik ke kahyangan.

Nagarakretagama juga mengisahkan secara singkat berita kekalahan Kertajaya
tersebut. Disebutkan bahwa Kertajaya melarikan diri dan bersembunyi dalam
dewalaya (tempat dewa). Kedua naskah tersebut (Pararaton dan Nagarakretagama)
memberitakan tempat pelarian Kertajaya adalah alam dewata. Kiranya yang dimaksud
adalah Kertajaya bersembunyi di dalam sebuah candi pemujaan, atau mungkin
Kertajaya tewas dan menjadi penghuni alam halus (akhirat)

Sejak tahun 1222 Kadiri menjadi daerah bawahan Tumapel (Singhasari). Menurut
Nagarakretagama, putra Kertajaya yang bernama Jayasabha diangkat Ken Arok
sebagai Bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya, yang bernama
Sastrajaya. Kemudian tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya yang bernama
Jayakatwang. Pada tahun 1292 Jayakatwang memberontak dan mengakhiri riwayat
Tumapel.

Berita tersebut tidak sesuai dengan naskah Prasasti Mula Malurung (1255), yang
mengatakan kalau penguasa Kadiri setelah Kertajaya adalah Bhatara Parameswara
putra Bhatara Siwa (alias Ken Arok). Adapun Jayakatwang menurut prasasti
Penanggungan adalah Bupati Gelang-Gelang yang kemudian menjadi Raja Kadiri
setelah menghancurkan Tumapel tahun 1292.

Sumber-sumber sejarah Kerajaan Panjalu Ciamis sedikitpun tidak ada yang
menyebutkan secara gamblang hubungannya dengan Kerajaan Panjalu Kediri, akan
tetapi kesamaan nama kedua kerajaan ini sedikit-banyak menunjukkan adanya benang
merah antara keduanya, apalagi nama Raja Panjalu Kediri Maharaja Kertajaya (1194-1222)
juga disebut-sebut dalam Prasasti Galunggung (1194).

Paul Michel Munoz (2006) mengemukakan bahwa sisa-sisa keluarga dan pengikut
Kertajaya (Raja terakhir Dinasti Sanjaya di Jawa Timur) melarikan diri ke daerah
Panjalu (Sukapura/Ciamis) pada tahun 1222 untuk menghindari pembantaian Ken
Angrok (Ken Arok), pendiri Kerajaan Singhasari/Dinasti Rajasa. Kertajaya sendiri
sebagai Raja Kediri terakhir tewas dalam pertempuran di Tumapel melawan
pemberontakan Akuwu Tumapel, Ken Angrok.

Berdasarkan kitab Nagarakretagama, Maharaja Kertajaya bersembunyi di Dewalaya (tempat
Dewa) atau tempat suci, maka bukan tidak mungkin Maharaja Kertajaya sebenarnya
tidak tewas di tangan Ken Arok, melainkan melarikan diri ke Kabataraan Gunung
Sawal (Panjalu Ciamis) yang merupakan tempat suci dimana bertahtanya Batara (Dewa)
Tesnajati.

[sunting] Ibukota Panjalu

Ibukota atau pusat kerajaan Panjalu berpindah-pindah sesuai dengan perkembangan
zaman, beberapa lokasi yang pernah menjadi pusat kerajaan adalah :

[sunting] Karantenan Gunung Sawal

Karantenan Gunung Sawal menjadi pusat kerajaan semasa Panjalu menjadi daerah
Kebataraaan, yaitu semasa kekuasaan Batara Tesnajati, Batara Layah dan Batara
Karimun Putih. Di Karantenan Gunung Sawal ini terdapat mata air suci dan sebuah
artefak berupa situs megalitik berbentuk batu pipih berukuran kira-kira 1,7 m x
1,5 m x 0,2 m. Batu ini diduga kuat digunakan sebagai sarana upacara-upacara
keagamaan, termasuk penobatan raja-raja Panjalu bahkan mungkin penobatan
Maharaja Sunda.

[sunting] Dayeuhluhur Maparah

Dayeuhluhur menjadi pusat pemerintahan sejak masa Prabu Sanghyang Rangga
Gumilang sampai dengan Prabu Sanghyang Cakradewa. Kaprabon Dayeuhluhur terletak
di bukit Citatah tepi Situ Bahara (Situ Sanghyang). Tidak jauh dari Dayeuhluhur
terdapat hutan larangan Cipanjalu yang menjadi tempat bersemadi Raja-raja
Panjalu. Konon Presiden I RI Ir Soekarno juga pernah berziarah ke tempat ini
sewaktu mudanya untuk mencari petunjuk Tuhan YME dalam rangka perjuangan
pergerakan kemerdekaan RI.

[sunting] Nusa Larang

Prabu Sanghyang Borosngora memindahkan kaprabon (kediaman raja) dari Dayeuhluhur
ke Nusa Larang. Nusa Larang adalah sebuah pulau yang terdapat di tengah-tengah
Situ Lengkong. Dinamai juga Nusa Gede karena pada zaman dulu ada juga pulau yang
lebih kecil bernama Nusa Pakel (sekarang sudah tidak ada karena menyatu dengan
daratan sehingga menyerupai tanjung). Untuk menyeberangi situ menuju Keraton
Nusa Larang dibangun sebuah Cukang Padung (jembatan) yang dijaga oleh Gulang-gulang
(penjaga gerbang) bernama Apun Otek. Sementara Nusa Pakel dijadikan Tamansari
dan Hujung Winangun dibangun Kapatihan untuk Patih Sanghyang Panji Barani.

[sunting] Dayeuh Nagasari Ciomas

Dayeuh Nagasari dijadikan kediaman raja pada masa pemerintahan Prabu Rahyang
Kancana sampai dengan pemerintahan Bupati Raden Arya Wirabaya. Dayeuh Nagasari
sekarang termasuk kedalam wilayah Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Ciamis.

Pada masa pemerintahan Prabu Rahyang Kancana, di Ciomas juga terdapat sebuah
pemerintahan daerah yang dikepalai oleh seorang Dalem (Bupati) bernama Dalem
Mangkubumi yang wilayahnya masuk kedalam kekuasaan Kerajaan Panjalu.

[sunting] Silsilah Ciomas Panjalu

1.Buyut Asuh.

2.Buyut Pangasuh.

3.Buyut Surangganta.

4.Buyut Suranggading.

5.Dalem Mangkubumi.

6.Dalem Penghulu Gusti.

7.Dalem Wangsaniangga.

8.Dalem Wangsanangga.

9.Dalem Margabangsa.

10.Demang Wangsadipraja. Patih Panjalu pada masa pemerintahan Arya Sumalah dan
Pangeran Arya Sacanata, berputera Demang Wargabangsa I.

11.Demang Wargabangsa I. Patih Panjalu pada masa pemerintahan Arya Wirabaya,
berputera Demang Wargabangsa II.

12.Demang Wargabangsa II. Patih Panjalu pada masa pemerintahan Tumenggung
Wirapraja, memperisteri Nyi Raden Siti Kalimah binti Raden Jiwakrama bin
Pangeran Arya Sacanata, berputera Demang Diramantri I.

13.Demang Diramantri I. Patih Panjalu pada masa pemerintahan Tumenggung
Cakranagara I, memperisteri Nyi Raden Panatamantri binti Tumenggung Cakranagara
I dan mempunyai tiga orang anak bernama 1) Demang Diramantri II, 2) Demang
Wangsadipraja, dan Nyi Raden Sanggrana (diperisteri seorang Sultan Cirebon).

14.Demang Diramantri II. Patih Panjalu pada masa pemerintahan Tumenggung
Cakranagara II menggantikan Demang Suradipraja. Sedangkan sang adik yaitu Demang
Wangsadipraja menjadi Patih Panjalu pada masa pemerintahan Tumenggung
Cakranagara III, Demang Wangsadipraja mempunyai dua orang anak yaitu: 1) Demang
Prajanagara, dan 2) Demang Cakrayuda.

15.Demang Prajanagara diangkat menjadi Patih Galuh, sedangkan adiknya yang
bernama Demang Cakrayuda diangkat menjadi Patih Kuningan. Demang Cakrayuda
memperisteri Nyi Raden Rengganingrum binti Tumenggung Cakranagara II dan
menurunkan putera bernama Demang Dendareja.

16.Demang Dendareja diangkat menjadi Patih Galuh.

[sunting] Dayeuh Panjalu

Raden Tumenggung Wirapraja kemudian memindahkan kediaman bupati ke Dayeuh
Panjalu sekarang.

Sementara itu pusat kerajaan Panjalu ditandai dengan sembilan tutunggul gada-gada
perjagaan yaitu patok-patok yang menjadi batas pusat kerajaan sekaligus
berfungsi sebagai pos penjagaan yang dikenal dengan Batara Salapan, yaitu
terdiri dari:

Sri Manggelong di Kubang Kelong, Rinduwangi

Sri Manggulang di Cipalika, Bahara

Kebo Patenggel di Muhara Cilutung, Hujungtiwu

Sri Keukeuh Saeukeurweuleuh di Ranca Gaul, Tengger

Lembu Dulur di Giut Tenjolaya, Sindangherang

Sang Bukas Tangan di Citaman, Citatah

Batara Terus Patala di Ganjar Ciroke, Golat

Sang Ratu Lahuta di Gajah Agung Cilimus, Banjarangsana

Sri Pakuntilan di Curug Goong, Maparah

[sunting] Masuknya Islam dan Pengaruh Cirebon

Menurut cerita yang disampaikan secara turun-temurun, masuknya Islam ke Panjalu
dibawa oleh Sanghyang Borosngora yang tertarik menuntut ilmu sampai ke Mekkah
lalu di-Islamkan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib R.A. Legenda rakyat ini mirip
dengan kisah Pangeran Kian Santang atau Sunan Godog Garut, yaitu ketika Kian
Santang atau Raja Sangara (adik Pangeran Cakrabuana Walangsungsang) yang setelah
diislamkan oleh Baginda Ali di Mekkah kemudian berusaha mengislamkan ayahnya
Sang Prabu Siliwangi.

Sementara itu menurut Babad Panjalu: dari Baginda Ali, Sanghyang Borosngora
mendapatkan cinderamata berupa air zamzam, pedang, cis (tongkat) dan pakaian
kebesaran. Air zamzam tersebut kemudian dijadikan cikal-bakal air Situ Lengkong,
sedangkan pusaka-pusaka pemberian Baginda Ali itu sampai sekarang masih
tersimpan di Pasucian Bumi Alit dan dikirabkan setelah disucikan setiap bulan
Mulud dalam upacara Nyangku di Panjalu pada hari Senin atau hari Kamis terakhir
bulan Maulud (Rabiul Awal).

Penyebaran Islam secara serentak dan menyeluruh di tatar Sunda sesungguhnya
dimulai sejak Syarif Hidayatullah (1448-1568) diangkat sebagai penguasa Cirebon
oleh Pangeran Cakrabuana bergelar Gusti Susuhunan Jati dan menyatakan melepaskan
diri dari Kemaharajaan Sunda dengan menghentikan pengiriman upeti pada tahun
1479. Peristiwa ini terjadi ketika wilayah Sunda dipimpin oleh Sang Haliwungan
Prabu Susuktunggal (1475-1482) di Pakwan Pajajaran dan Ningrat Kancana Prabu
Dewa Niskala (1475-1482) di Kawali. Jauh sebelum itu, para pemeluk agama Islam
hanya terkonsentrasi di daerah-daerah pesisir atau pelabuhan yang penduduknya
banyak melakukan interaksi dengan para saudagar atau pedagang dari Gujarat,
Persia dan Timur Tengah.

Puteri Prabu Susuktunggal yang bernama Nay Kentring Manik Mayang Sunda kemudian
dinikahkan dengan putera Prabu Dewa Niskala yang bernama Jayadewata. Jayadewata
kemudian dinobatkan sebagai penguasa Pakwan Pajajaran dan Kawali bergelar Sri
Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, dengan
demikian maka seperti juga mendiang kakeknya yang bernama Niskala Wastu Kancana
ia menyatukan Pakwan Pajajaran (Sunda) dan Kawali (Galuh) dalam satu mahkota
Maharaja Sunda.

Sri Baduga Maharaja juga memindahkan ibokota Sunda dari Kawali ke Pakwan
Pajajaran, meskipun hal ini bukan kali pertama ibukota Kemaharaajaan Sunda
berpindah antara Sunda dan Galuh, namun salah satu alasan perpindahan ibukota
negara ini diduga kuat sebagai antisipasi semakin menguatnya kekuasaan Demak dan
Cirebon.

Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1481-1521) kerajaan-kerajaan yang
masih mengirimkan upetinya ke Pakwan Pajajaran adalah Galunggung, Denuh, Talaga,
Geger Bandung, Windu Galuh, Malaka, Mandala, Puma, Lewa dan Kandangwesi (Pleyte,
1911:172). Akan tetapi hal itu tidak bertahan lama karena satu persatu daerah
bawahan Sunda itu ditaklukan Cirebon.

Raja Talaga Sunan Parunggangsa ditaklukkan Cirebon pada tahun 1529 dan kemudian
bersama puterinya Ratu Sunyalarang, juga menantunya Ranggamantri Pucuk Umun
secara sukarela memeluk Islam. Di Sumedang Larang Ratu Setyasih atau Ratu Inten
Dewata atau Ratu Pucuk Umun (1530-1579) mengakui kekuasaan Cirebon dan memeluk
Islam.

Di Kerajaan Kuningan Ratu Selawati menyerah kepada pasukan Cirebon, salah
seorang puterinya kemudian dinikahkan dengan anak angkat Gusti Susuhunan Jati
yang bernama Suranggajaya, Suranggajaya kemudian diangkat menjadi Bupati
Kuningan bergelar Sang Adipati Kuningan karena Kuningan menjadi bagian dari
Cirebon.

Di kerajaan Galuh, penguasa Galuh yang bernama Ujang Meni bergelar Maharaja
Cipta Sanghyang di Galuh berusaha mempertahankan wilayahnya dari serbuan pasukan
Cirebon, tapi karena kekuatan yang tidak seimbang maka ia bersama puteranya yang
bernama Ujang Ngekel yang kemudian naik tahta Galuh bergelar Prabu di Galuh
Cipta Permana (1595-1608) juga mau tak mau harus mengakui kekuasaan Cirebon
serta akhirnya memeluk Islam dengan sukarela. Demikian juga yang terjadi di
Kerajaan Sindangkasih (Majalengka). Berdasarkan rentetan peristiwa-peristiwa
yang terjadi di kerajaan-kerajaan tetangganya tersebut, maka diperkirakan pada
periode yang bersamaan Kerajaan Panjalu juga menjadi taklukan Cirebon dan
menerima penyebaran Islam.

Kemaharajaan Sunda sendiri posisinya semakin lama semakin terjepit oleh
kekuasaan Cirebon-Demak di sebelah timur dan Banten di sebelah barat. Pada tahun
1579 pasukan koalisi Banten-Cirebon dipimpin oleh Sultan Banten Maulana Yusuf
berhasil mengalahkan pertahanan terakhir pasukan Sunda, kaprabon dan ibukota
Kemaharajaan Sunda yaitu Pakwan Pajajaran berhasil diduduki, benda-benda yang
menjadi simbol Kemaharajaan Sunda diboyong ke Banten termasuk batu singgasana
penobatan Maharaja Sunda berukuran 200cm x 160cm x 20cm yang bernama Palangka
Sriman Sriwacana (orang Banten menyebutnya Watu Gilang atau batu berkilau) .
Akibat peristiwa ini, Prabu Ragamulya Surya Kancana (1567-1579) beserta seluruh
anggota keluarganya menyelamatkan diri dari kaprabon yang menandai berakhirnya
Kemaharajaan Sunda.

Menurut sumber sejarah Sumedang Larang, ketika peristiwa itu terjadi empat orang
kepercayaan Prabu Ragamulya Surya Kancana yang dikenal dengan Kandaga Lante yang
terdiri dari Sanghyang Hawu (Jayaperkosa), Batara Adipati Wiradijaya (Nangganan),
Sanghyang Kondanghapa dan Batara Pancar Buana (Terong Peot) berhasil
menyelamatkan atribut pakaian kebesaran Maharaja Sunda yang terdiri dari mahkota
emas simbol kekuasaan Raja Pakwan, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan
lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu. Atribut-atribut
kebesaran tersebut kemudian diserahkan kepada Raden Angkawijaya putera Ratu
Inten Dewata (1530-1579) yang kemudian naik tahta Sumedang Larang dengan gelar
Prabu Geusan Ulun (1579-1601).

[sunting] Pengaruh Mataram

Sepeninggal Kemaharajaan Sunda (723-1579), wilayah Jawa Barat terbagi menjadi
kerajaan-kerajaan kecil yang pada mulanya merupakan bawahan Sunda. Kerajaan-kerajaan
yang masih saling berhubungan darah itu tidak lepas dari pengaruh kekuasaan
Cirebon dan Banten yang sedang berada pada puncak kejayaannya. Kerajaan-kerajaan
itu merupakan kerajaan yang mandiri dan dipimpin oleh seorang bergelar Prabu,
Sanghyang, Rahyang, Hariang, Pangeran ataupun Sunan, akan tapi mereka mengakui
kekuasaan Cirebon dan Banten. Dua kerajaan bawahan Sunda yang paling luas
wilayahnya adalah Sumedang Larang dan Galuh yang masing-masing dianggap sebagai
penerus Kemaharajaan Sunda.

Pada tahun 1595 Sutawijaya atau Panembahan Senopati (1586-1601) memperluas
wilayah kekuasaan Mataram ke wilayah Jawa Barat sehingga berhasil menaklukkan
Cirebon dan kemudian menduduki daerah-daerah sekitarnya yang meliputi wilayah
Jawa Barat kecuali Banten dan Jayakarta (Batavia). Untuk mempererat hubungan
Mataram-Cirebon ini, Senopati menikahkan salah seorang saudarinya bernama Ratu
Harisbaya dengan pengusasa Cirebon waktu itu, Panembahan Ratu (1570-1649).

Panembahan Senopati digantikan puteranya yaitu Mas Jolang yang naik tahta
sebagai Prabu Hanyokrowati (1601-1613), Prabu Hanyokrowati lalu digantikan oleh
puteranya yang bernama Mas Rangsang, naik tahta Mataram sebagai Sultan Agung
Hanyokrokusumo (1613-1645).

Pada tahun 1618 Sultan Agung mengangkat putera Prabu di Galuh Cipta Permana yang
bernama Ujang Ngoko bergelar Adipati Panaekan (1608-1625) sebagai Wedana Bupati
yang mengepalai Bupati-bupati Priangan. Adipati Panaekan juga merangkap sebagai
Bupati Galuh yang menggantikan ayahnya Prabu di Galuh karena Galuh bukan lagi
sebuah kerajaan melainkan sebuah kabupaten dibawah Kesultanan Mataram.

Priangan sendiri berasal dari kata parahyangan yang berarti tempat para hyang (dewata),
suatu sebutan bagi wilayah bekas Kemaharajaan Sunda yang sebelumnya menganut
agama Hindu, selain itu raja-raja Sunda sering memakai gelar hyang atau
sanghyang yang artinya dewa.

Peristiwa pendudukan Mataram ini di Panjalu diperkirakan terjadi pada masa
pemerintaha Prabu Rahyang Kunang Natabaya karena puteranya yaitu Raden Arya
Sumalah tidak lagi memakai gelar Prabu seperti ayahnya, hal ini menunjukkan
bahwa Panjalu juga sudah menjadi salah satu kabupaten di bawah Mataram.

Pada tahun 1620 Arya Suryadiwangsa menyerahkan kekuasaannya atas Sumedang Larang
kepada Mataram, Sultan Agung kemudian mengangkat Arya Suryadiwangsa (1601-1624)
sebagai Bupati Sumedang Larang bergelar Pangeran Rangga Gempol Kusumahdinata.
Pada tahun 1624 Rangga Gempol ditunjuk sebagai panglima pasukan Mataram utuk
menaklukkan daerah Sampang, Madura. Oleh karena itu jabatan Bupati Sumedang
Larang dipegang adiknya yang bernama Pangeran Rangga Gede (1624-1633) sekaligus
merangkap sebagai Wedana Bupati Priangan menggantikan Adipati Panaekan.

Pada waktu itu Sultan Agung tengah menyiapkan serangan besar-besaran untuk
merebut Benteng Batavia dari tangan Kompeni Belanda dan meminta para bupati
Priangan menunjukkan kesetiaannya dengan mengirimkan pasukan gabungan untuk
menggempur Batavia. Rencana Sultan Agung ini menimbulkan perbedaan pendapat
diantara para bupati Priangan, tahun 1625 Adipati Panaekan yang berselisih paham
dengan Bupati Bojonglopang bernama Adipati Kertabumi (Singaperbangsa) tewas di
tangan adik iparnya itu. Kedudukan mendiang Adipati Panaekan sebagai Bupati
Galuh lalu digantikan oleh puteranya yang bernama Ujang Purba bergelar Adipati
Imbanagara (1625-1636).

Pangeran Rangga Gede sebagai Wedana Bupati Priangan oleh Sultan Agung dianggap
tidak mampu mengatasi serangan-serangan Banten di daerah perbatasan sekitar
Sungai Citarum yang saling bersaing berebut pengaruh dengan Mataram, oleh karena
itu kedudukan Wedana Bupati Priangan pada tahun 1628 digantikan oleh Bupati
Bandung bernama Adipati Ukur, sedangkan Rangga Gede dijebloskan ke dalam tahanan.

Adipati Ukur juga sekaligus diangkat menjadi Panglima pasukan Mataram yang
terdiri dari gabungan pasukan kabupaten-kabupaten bawahan Mataram di Priangan
untuk merebut Benteng Batavia dari VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau
Perkumpulan Dagang India Timur) yang dipimpin Gubernur Jan Pieterszoon Coen (1619-1623
dan 1627-1629). Setiap Kabupaten mengirimkan kontingen pasukannya dalam
penyerbuan itu dan pemimpin kontingen pasukan dari Galuh adalah Bagus Sutapura.

Sejarah mencatat bahwa Adipati Ukur bersama pasukannya itu ternyata tidak
berhasil merebut Batavia, oleh karena kegagalannya itu Sultan Agung menjatuhkan
hukuman mati kepada Adipati Ukur. Akibatnya Adipati Ukur berbalik memberontak
terhadap Mataram (1628-1632). Perlawanan Adipati Ukur baru berhasil dihentikan
setelah Mataram mendapatkan bantuan Ki Wirawangsa dari Umbul Sukakerta, Ki
Astamanggala dari Umbul Cihaurbeuti dan Ki Somahita dari Umbul Sindangkasih.

Atas jasa-jasa mereka memadamkan pemberontakan Adipati Ukur itu, pada tahun 1633
Sultan Agung mengangkat Ki Wirawangsa menjadi Bupati Sukapura dengan Gelar
Tumenggung Wiradadaha, Ki Astamanggala menjadi Bupati Bandung dengan gelar
Tumenggung Wiraangun-angun, dan Ki Somahita menjadi Bupati Parakan Muncang
dengan gelar Tumenggung Tanubaya. Bagus Sutapura yang juga berjasa kepada
Mataram diangkat sebagai Bupati Kawasen.

Sementara itu Bupati Galuh Adipati Imbanagara dijatuhi hukum mati oleh Sultan
Agung karena dianggap terlibat dalam pemberontakan Adipati Ukur. Jabatan Wedana
Bupati Priangan kemudian dikembalikan kepada Pangeran Rangga Gede sekaligus
menjabat sebagai Bupati Sumedang Larang.

Sewaktu tahta Mataram dipegang oleh putera Sultan Agung yaitu Sunan Amangkurat I
(1645-1677), antara tahun 1656-1657 jabatan Wedana Bupati Priangan dihapuskan
dan wilayah Mataram Barat (Priangan) dibagi menjadi 12 Ajeg (daerah setingkat
kabupaten) yaitu: Sumedang, Parakan Muncang (Bandung Timur), Bandung, Sukapura (Tasikmalaya),
Karawang, Imbanagara (Ciamis), Kawasen (Ciamis Selatan), Wirabaya (Ciamis Utara
termasuk wilayah Kabupaten Panjalu, Utama dan Bojonglopang), Sindangkasih (Majalengka),
Banyumas, Ayah/Dayeuhluhur (Kebumen, Cilacap), dan Banjar (Ciamis Timur). Pada
waktu itu Raden Arya Wirabaya keponakan Bupati Panjalu Pangeran Arya Sacanata
diangkat menjadi kepala Ajeg Wirabaya.

Pada tahun 1677 Sunan Amangkurat II (1677-1703) menyerahkan wilayah Priangan
barat dan tengah kepada VOC sebagai imbalan atas bantuan VOC dalam usaha
menumpas pemberontakan Trunajaya, menyusul kemudian pada tahun 1705 Cirebon
beserta Priangan Timur juga diserahkan Pakubuwana I kepada VOC pasca
perselisihan antara Amangkurat III dengan sang paman Pangeran Puger atau
Pakubuwana I (1704-1719).

Dalam masa pendudukan Mataram selama 110 tahun ini (1595-1705), yang menjabat
menjadi Bupati Panjalu secara berturut-turut adalah:

Raden Arya Sumalah

Pangeran Arya Sacanata alias Pangeran Arya Salingsingan

Raden Arya Wirabaya

Raden Tumenggung Wirapraja

[sunting] Masa VOC dan Hindia Belanda

Berdasarkan perjanjian VOC dengan Mataram tanggal 5 Oktober 1705, maka seluruh
wilayah Jawa Barat kecuali Banten jatuh ke tangan Kompeni. Untuk mengawasi dan
memimpin bupati-bupati Priangan ini, maka pada tahun 1706 Gubernur Jenderal VOC
Joan van Hoorn (1704-1709) mengangkat Pangeran Arya Cirebon (1706-1723) sebagai
opzigter atau Pemangku Wilayah Priangan.

Gubernur Jendral VOC menjadikan para Bupati sebagai pelaksana atau agen
verplichte leverantie atau agen penyerahan wajib tanaman komoditas perdagangan
seperti beras cengkeh, pala, lada, kopi, indigo dan tebu.

Kebijakan VOC ini sangat membebani kehidupan rakyat kecil, akibatnya pada tahun
1703 terjadi kerusuhan yang digerakkan oleh Raden Alit atau RH Prawatasari
seorang menak (bangsawan) Cianjur keturunan Panjalu yang berasal dari Jampang (Sukabumi).
Kerusuhan yang digerakkan RH Prawatasari ini melanda seluruh kepentingan VOC di
wilayah Priangan (Jawa Barat) terutama di Cianjur, Bogor, dan Sumedang. Di
Priangan timur terutama Galuh, kerusuhan ini melanda wilayah Utama, Bojonglopang
dan Kawasen.

Namun pemberontakan RH Prawatasari ini akhirnya dapat dipadamkan oleh VOC pada
12 Juli tahun 1707, Raden Haji Prawatasari tertangkap dalam satu pertempuran
seru di daerah Bagelen, Banyumas yang lalu kemudian di asingkan ke Kartasura.

Pasca pemberontakan RH Prawatasari, pada masa kepemimpinan Pangeran Arya Cirebon,
Raden Prajasasana (putera Raden Arya Wiradipa bin Pangeran Arya Sacanata) yang
menjadi pamong praja bawahan Pangeran Arya Cirebon diangkat sebagai Bupati
Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara menggantikan Raden Tumenggung
Wirapraja.

Pada tahun 1819, Gubernur Jenderal Hindia Belanda G.A.G.Ph. Baron Van der
Capellen (1816-1826) menggabungkan wilayah-wilayah Kabupaten Panjalu, Kawali,
Distrik Cihaur dan Rancah kedalam Kabupaten Galuh. Dengan demikian pada tahun
itu Raden Tumenggung Cakranagara III dipensiunkan sebagai Bupati Panjalu,
sementara di kabupaten Galuh, Bupati Wiradikusumah juga digantikan oleh
puteranya yang bernama Adipati Adikusumah (1819-1839).

Semenjak itu Panjalu menjadi daerah kademangan di bawah kabupaten Galuh dan
putera tertua Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Demang Sumawijaya
diangkat sebagai Demang Panjalu (Demang adalah jabatan setingkat Wedana)
sedangkan putera ketujuh Cakranagara III yang bernama Raden Arya Cakradikusumah
diangkat sebagai Wedana Kawali. Pada masa itu wedana adalah jabatan satu tingkat
diatas camat (asisten wedana).

Raden Demang Sumawijaya setelah mangkat digantikan oleh putera tertuanya yang
bernama Raden Demang Aldakusumah sebagai Demang Panjalu, semantara putera tertua
dari Wedana Kawali Raden Arya Cakradikusumah yang bernama Raden Tumenggung
Argakusumah diangkat menjadi Bupati Dermayu (sekarang Indramayu) dengan gelar
Raden Tumenggung Cakranagara IV.

Pada tahun 1915 Kabupaten Galuh berganti nama menjadi Kabupaten Ciamis dan
dimasukkan kedalam Keresidenan Priangan setelah dilepaskan dari wilayah
administrasi Cirebon. Antara tahun 1926-1942 Ciamis dimasukkan kedalam afdeeling
Priangan Timur bersama-sama dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Garut dengan
ibukota afdeeling di Tasikmalaya. Pada tanggal 1 Januari 1926 Pemerintah Hindia
Belanda membagi Pulau Jawa menjadi tiga provinsi yaitu: Jawa Barat, Jawa Tengah
dan Jawa Timur. Panjalu dewasa ini adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Ciamis
Provinsi Jawa Barat.

Raden Tumenggung Cakranagara III, Raden Demang Sumawijaya, Raden Demang
Aldakusumah dan Raden Tumenggung Argakusumah (Cakranagara IV) dimakamkan di Nusa
Larang Situ Lengkong Panjalu, berada satu lokasi dengan pusara Prabu Rahyang
Kancana putera Prabu Sanghyang Borosngora.

Dewasa ini Nusa Larang dan Situ Lengkong Panjalu menjadi obyek wisata alam dan
wisata ziarah Islami utama di Kabupaten Ciamis dan selalu ramai dikunjungi oleh
para peziarah dari seluruh Indonesia terutama dari Jawa Timur, apalagi setelah
Presiden IV RI K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur diketahui beberapa kali
berziarah di Nusa Larang dan mengaku bahwa dirinya juga adalah keturunan Panjalu.

[sunting] Silsilah Panjalu

[sunting] Batara Tesnajati

Batara Tesnajati adalah tokoh pendiri Kabataraan Gunung Sawal, ia mempunyai
seorang putera bernama Batara Layah. Petilasan Batara Tesnajati terdapat di
Karantenan Gunung Sawal.

[sunting] Batara Layah

Batara Layah menggantikan ayahnya sebagai Batara di Karantenan Gunung Sawal
Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Batara Karimun Putih.

[sunting] Batara Karimun Putih

Ia menggantikan ayahnya menjadi Batara di Gunung Sawal Panjalu, ia mempunyai
seorang putera bernama Prabu Sanghyang Rangga Sakti. Petilasan Batara Karimun
Putih terletak di Pasir Kaputihan, Gunung Sawal.

[sunting] Prabu Sanghyang Rangga Gumilang

Sanghyang Rangga Gumilang naik tahta Panjalu menggantikan ayahnya, ia dikenal
juga sebagai Sanghyang Rangga Sakti dan pada masa pemerintahaanya terbentuklah
suatu pemerintahan yang berpusat di Dayeuhluhur Maparah setelah berakhirnya masa
Kabataraan di Karantenan Gunung Sawal Panjalu.

Sanghyang Rangga Gumilang menikahi seorang puteri Galuh bernama Ratu Permanadewi
dan mempunyai seorang putera bernama Sanghyang Lembu Sampulur. Petilasan Prabu
Sanghyang Rangga Gumilang terletak di Cipanjalu.

[sunting] Prabu Sanghyang Lembu Sampulur I

Sanghyang Lembu Sampulur I naik tahta sebagai Raja Panjalu, ia mempunyai seorang
putera bernama Sanghyang Cakradewa.

[sunting] Prabu Sanghyang Cakradewa

Sanghyang Cakradewa memperisteri seorang puteri Galuh bernama Ratu Sari Kidang
Pananjung dan mempunyai enam orang anak yaitu:

1) Sanghyang Lembu Sampulur II,

2) Sanghyang Borosngora,

3) Sanghyang Panji Barani,

4) Sanghyang Anggarunting,

5) Ratu Mamprang Kancana Artaswayang, dan

6) Ratu Pundut Agung (diperisteri Maharaja Sunda).

Petilasan Prabu Sanghyang Cakradewa taerdapat di Cipanjalu.

Menurut kisah dalam Babad Panjalu, Prabu Sanghyang Cakradewa adalah seorang raja
yang adil dan bijaksana, di bawah pimpinannya Panjalu menjadi sebuah kerajaan
yang makmur dan disegani. Suatu ketika sang raja menyampaikan keinginannya di
hari tua nanti untuk meninggalkan singgasana dan menjadi Resi atau petapa (lengser
kaprabon ngadeg pendita). Untuk itu sang prabu mengangkat putera tertuanya
Sanghyang Lembu Sampulur II menjadi putera mahkota, sedangkan putera keduanya
yaitu Sanghyang Borosngora dipersiapkan untuk menjadi patih dan senapati
kerajaan (panglima perang). Oleh karena itu Sanghyang Borosngora pergi berkelana,
berguru kepada para brahmana, petapa,resi, guru dan wiku sakti di seluruh
penjuru tanah Jawa untuk mendapatkan berbagai ilmu kesaktian dan ilmu olah
perang.

Beberapa tahun kemudian sang pangeran pulang dari pengembaraannya dan disambut
dengan upacara penyambutan yang sangat meriah di kaprabon Dayeuhluhur, Prabu
Sanghyang Cakradewa sangat terharu menyambut kedatangan puteranya yang telah
pergi sekian lama tersebut. Dalam suatu acara, sang prabu meminta kepada
Sanghyang Borosngora untuk mengatraksikan kehebatannya dalam olah perang dengan
bermain adu pedang melawan kakaknya yaitu Sanghyang Lembu Sampulur II dihadapan
para pejabat istana dan para hadirin. Ketika kedua pangeran itu tengah mengadu
kehebatan ilmu pedang itu, tak sengaja kain yang menutupi betis Sanghyang
Borosngora tersingkap dan tampaklah sebentuk rajah (tattoo) yang menandakan
pemiliknya menganut ilmu kesaktian aliran hitam.

Prabu Sanghyang Cakradewa sangat kecewa mendapati kenyataan tersebut, karena
ilmu itu tidak sesuai dengan Anggon-anggon Kapanjaluan (falsafah hidup orang
Panjalu) yaitu mangan kerana halal, pake kerana suci, tekad-ucap-lampah
sabhenere dan Panjalu tunggul rahayu, tangkal waluya. Sang Prabu segera
memerintahkan Sanghyang Borosngora untuk membuang ilmu terlarang itu dan segera
mencari "Ilmu Sajati" yaitu ilmu yang menuntun kepada jalan keselamatan. Sebagai
indikator apakah Sanghyang Borosngora telah menguasai ilmu sajati atau belum,
maka sang prabu membekalinya sebuah gayung batok kelapa yang dasarnya diberi
lubang-lubang sehingga tidak bisa menampung cidukan air. Apabila sang pangeran
telah menguasai ilmu sajati, maka ia bisa menciduk air dengan gayung berlubang-lubang
tersebut.

Untuk kedua kalinya Sanghyang Borosngora pergi meninggalkan kaprabon, dan kali
ini ia berjalan tak tentu arah karena tidak tahu kemana harus mencari ilmu yang
dimaksudkan oleh ayahnya itu. Letih berjalan tak tentu arah akhirnya ia duduk
bersemadi, mengheningkan cipta, memohon kepada Sanghyang Tunggal agar diberikan
petunjuk untuk mendapatkan Ilmu Sajati. Sekian lama bersemadi akhirnya ia
mendapat petunjuk bahwa pemilik ilmu yang dicarinya itu ada di seberang lautan,
yaitu di tanah suci Mekkah, Jazirah Arab. Dengan ilmu kesaktiannya Sanghyang
Borosngora tiba di Mekkah dalam sekejap mata.

Di Mekkah itu Sanghyang Borosngora bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya
agar dapat bertemu dengan seseorang yang mewarisi Ilmu Sajati yang dimaksud.
Orang-orang yang tidak mengerti maksud sang pangeran menunjukkan agar ia menemui
seorang pria yang tinggal dalam sebuah tenda di gurun pasir. Sanghyang
Borosngora bergegas menuju tenda yang dimaksud dan ketika ia membuka tabir tenda
itu dilihatnya seorang pria tua yang sedang menulis dengan pena. Karena terkejut
dengan kedatangan tamunya, pena yang ada di tangan pria tua itu terjatuh
menancap di tanah berpasir.

Lelaki misterius itu menegur sang pangeran karena telah datang tanpa mengucapkan
salam sehingga mengejutkannya, setelah bertanya apa keperluannya datang ke
tendanya, lelaki itu hanya meminta Sanghyang Borosngora agar mengambilkan
penanya yang menancap di tanah. Sang pangeran segera memenuhi permintaan pria
itu, tetapi terjadi kejanggalan, pena yang menancap di tanah itu seperti sudah
menyatu dengan bumi sehingga walaupun segenap kekuatannya telah dikerahkan,
namum pena itu tak bergeming barang sedikitpun.

Sanghyang Borosngora segera menyadari bahwa orang yang ada di hadapannya
bukanlah orang sembarangan. Sebagai seorang kesatria ia mengakui kehebatan pria
itu dan memohon ampun atas kelancangan sikapnya tadi. Sang pangeran juga memohon
kesediaan pria misterius itu mengajarinya ilmu yang sangat mengagumkannya ini.
Lelaki yang kemudian diketahui adalah Sayidina Ali bin Abi Thalib R.A. ini hanya
meminta Sanghyang Borosngora mengucapkan kalimat syahadat seperti yang
dicontohkannya dan sungguh ajaib, pena yang menancap di tanah itu bisa dicabut
dengan mudah olehnya.

Setelah peristiwa itu Sanghyang Borosngora menetap beberapa lama di Mekkah untuk
menimba Ilmu Sajati kepada Baginda Ali R.A. yang ternyata adalah Dien Al Islam (Agama
Islam). Di akhir masa pendidikannya Sanghyang Borosngora diberi wasiat oleh
Baginda Ali agar melaksanakan syiar Islam di tanah asalnya. Sanghyang Borosngora
yang sekarang bernama Syeikh Haji Abdul Iman ini kemudian diberi cinderamata
berupa Pedang, Cis (tongkat), pakaian kebesaran. Sebelum pulang Syeikh Haji
Abdul Iman juga menciduk air zam-zam dengan gayung berlubang pemberian ayahnya
dan ternyata air zam-zam itu tidak menetes yang berarti ia telah berhasil
menguasai ilmu sajati dengan sempurna.

Ringkas cerita Sanghyang Borosngora kembali ke kaprabon dan disambut dengan suka
cita oleh sang prabu beserta seluruh kerabatnya. Sanghyang Borosngora juga
menyampaikan syiar Islam kepada seluruh kerabat istana. Sang Prabu yang telah
uzur menolak dengan halus ajakan puteranya itu dan memilih hidup sebagai pendeta
sebagaimana kehendaknya dahulu dan menyerahkan singgasana kepada putera mahkota
Sanghyang Lembu Sampulur II.

Air zam-zam yang dibawa Sanghyang Borosngora dijadikan cikal bakal air Situ
Lengkong yang sebelumnya merupakan sebuah lembah yang mengelilingi bukit bernama
Pasir Jambu. Gayung berlubang pemberian ayahnya dilemparkan ke Gunung Sawal dan
kemudian menjadi sejenis tanaman paku yang bentuknya seperti gayung. Sanghyang
Borosngora melanjutkan syiar Islamnya dengan mengembara ke arah barat melewati
daerah-daerah yang sekarang bernama Tasikmalaya, Garut, Bandung, Cianjur dan
Sukabumi.

Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II tidak lama memerintah di Kerajaan Panjalu, ia
kemudian hijrah ke daerah Cimalaka di kaki Gunung Tampomas, Sumedang dan
mendirikan kerajaan baru di sana. Sanghyang Borosngora yang menempati urutan
kedua sebagai pewaris tahta Panjalu meneruskan kepemimpinan kakaknya itu dan
menjadikan Panjalu sebagai kerajaan Islam yang sebelumnya bercorak Hindu.

Sebagai media syiar Islam, Sanghyang Borosngora mempelopori tradisi upacara adat
Nyangku yang diadakan setiap Bulan Maulud (Rabiul Awal), yaitu sebuah prosesi
ritual penyucian pusaka-pusaka yang diterimanya dari Baginda Ali R.A. yang
setelah disucikan kemudian dikirabkan dihadapan kumpulan rakyatnya. Acara yang
menarik perhatian khalayak ramai ini dipergunakan untuk memperkenalkan
masyarakat dengan agama Islam dan mengenang peristiwa masuk Islamnya Sanghyang
Borosngora.

[sunting] Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II

Sanghyang Lembu Sampulur II naik tahta menggantikan Prabu Sanghyang Cakradewa,
akan tetapi ia kemudian menyerahkan singgasana kerajaan kepada adiknya yaitu
Sanghyang Borosngora,sedangkan ia sendiri hijrah dan mendirikan kerajaan baru di
Cimalaka Gunung Tampomas (Sumedang).

[sunting] Prabu Sanghyang Borosngora

Sanghyang Borosngora naik tahta Panjalu menggantikan posisi kakaknya, ia
kemudian membangun keraton baru di Nusa Larang. Adiknya yang bernama Sanghyang
Panji Barani diangkat menjadi Patih Panjalu. Di dalam Babad Panjalu tokoh Prabu
Sanghyang Borosngora ini dikenal sebagai penyebar Agama Islam dan Raja Panjalu
pertama yang menganut Islam, benda-benda pusaka peninggalannya masih tersimpan
di Pasucian Bumi Alit dan dikirabkan pada setiap bulan Maulud setelah terlebih
dulu disucikan dalam rangkaian prosesi acara adat Nyangku.

Sanghyang Borosngora mempunyai dua orang putera yaitu:

1) Rahyang Kuning, dan

2) Rahyang Kancana.

Prabu Sanghyang Borosngora juga didamping oleh Guru Aji Kampuhjaya dan Bunisakti,
dua orang ulama kerajaan yang juga merupakan senapati-senapati pilih tanding.

Petilasan Prabu Sanghyang Borosngora terdapat di Jampang Manggung (Sukabumi),
sedangkan petilasan Sanghyang Panji Barani terdapat di Cibarani (Banten).

[sunting] Sanghyang Borosngora dan Hyang Bunisora

Hyang Bunisora Suradipati adalah adik Maharaja Sunda yang bernama Maharaja
Linggabuana. Sang Maharaja terkenal sebagai Prabu Wangi yang gugur sebagai
pahlawan di palagan Bubat melawan tentara Majapahit pada tahun 1357. Ketika
peristiwa memilukan itu terjadi puteranya yang bernama Niskala Wastu Kancana
baru berusia 9 tahun, untuk itu Hyang Bunisora menjabat sebagai Mangkubumi
Suradipati mewakili keponakannya itu atas tahta Kawali .

Hyang Bunisora juga dikenal sebagai Prabu Kuda Lelean dan Batara Guru di Jampang
karena menjadi seorang petapa atau resi yang mumpuni di Jampang (Sukabumi). Nama
Hyang Bunisora yang mirip dengan Sanghyang Borosngora dan gelarnya sebagai
Batara Guru di Jampang menyiratkan adanya keterkaitan antara kedua tokoh ini,
meskipun belum bisa dipastikan apakah kedua tokoh ini adalah orang yang sama.
Jika ternyata kedua tokoh ini adalah orang yang sama, pastinya akan membuka
salah satu lembar yang tersembunyi dari Sejarah Sunda.

[sunting] Sanghyang Borosngora dan Baginda Ali RA

Legenda pertemuan antara Sanghyang Borosngora dengan Baginda Ali R.A. ini sampai
sekarang masih kontroversial mengingat keduanya hidup di zaman yang berbeda.
Sayidina Ali hidup pada abad ke-7 M (tahun 600-an) sedangkan pada periode masa
itu di tatar Sunda tengah berdiri Kerajaan Tarumanagara dan nama Panjalu belum
disebut-sebut dalam sejarah. Nama Panjalu (Kabuyutan Sawal) mulai disebut-sebut
ketika Sanjaya (723-732) hendak merebut Galuh dari tangan Purbasora, ketika itu
Sanjaya mendapat bantuan pasukan khusus dari Rabuyut Sawal (Panjalu) yang
merupakan sahabat ayahnya, Sena (709-716).

Sementara itu jika dirunut melalui catatan silsilah Panjalu sampai keturunannya
sekarang, maka Sanghyang Borosngora diperkirakan hidup pada tahun 1400-an atau
paling tidak sezaman dengan Sunan Gunung Jati Cirebon (1448-1568). Namun
demikian, bukti-bukti cinderamata dari Sayidina Ali R.A. yang berupa pedang,
tongkat dan pakaian kebesaran masih dapat dilihat dan tersimpan di Pasucian Bumi
Alit. Kabarnya pedang pemberian Baginda Ali itu pernah diteliti oleh para ahli
dan hasilnya menunjukkan bahwa kandungan logam dan besi yang membentuk pedang
itu bukan berasal dari jenis bahan pembuatan senjata yang biasa dipakai para
Empu dan Pandai Besi di Nusantara.

[sunting] Sanghyang Borosngora, Walangsungsang dan Kian Santang

Kisah masuk Islamnya Sanghyang Borosngora yang diislamkan oleh Sayidina Ali R.A.
ini mirip dengan kisah Kian Santang. Kian Santang adalah putera Prabu Siliwangi
dari isteri keduanya yang bernama Nyai Subang Larang binti Ki Gedeng Tapa yang
beragama Islam. Dari isteri keduanya ini Prabu Siliwangi mempunyai tiga orang
putera-puteri yaitu Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Nyai Rara Santang, dan
Kian Santang (Raja Sangara). Walangsungsang dan Rara Santang menuntut ilmu agama
Islam mulai dari Pasai, Makkah, sampai ke Mesir; bahkan Rara Santang kemudian
dinikahi oleh penguasa Mesir Syarif Abdullah atau Sultan Maulana Mahmud dan
berputera Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Setelah naik haji Pangeran
Cakrabuana berganti nama menjadi Syeikh Abdullah Iman, sedangkan Rara Santang
setelah menikah berganti nama menjadi Syarifah Mudaim.

Sementara itu, berbeda dengan kedua kakaknya; Kian Santang dikisahkan memeluk
Islam setelah bertemu dengan Baginda Ali lalu kembali ke tanah air untuk
menyampaikan syiar Islam kepada sang ayah: Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi yang
tidak bersedia memeluk Islam lalu menghilang beserta seluruh pengikutnya di
Leuweung Sancang (hutan Sancang di daerah Garut sekarang). Kian Santang yang
juga berganti nama menjadi Syeikh Mansyur, melanjutkan syiar Islamnya dan
kemudian dikenal sebagai Sunan Rahmat Suci atau Sunan Godog yang petilasannya
terdapat di Garut.

[sunting] Sanghyang Borosngora versi Sejarah Cianjur

Menurut versi Sejarah Cianjur, Sanghyang Borosngora dikenal sebagai Prabu
Jampang Manggung. Nama aslinya adalah Pangeran Sanghyang Borosngora, ia putera
kedua Adipati Singacala (Panjalu) yang bernama Prabu Cakradewa. Prabu Cakradewa
sendiri adalah putera Sedang Larang, Sedang Larang adalah putera Ratu Prapa
Selawati.

Sanghyang Borosngora adalah putera Prabu Cakradewa dari permaisuri yang bernama
Ratu Sari Permanadewi. Ratu Sari Permanadewi adalah putera keenam dari Adipati
Wanaperi Sang Aria Kikis, jadi Sanghyang Borosngora adalah saudara misan Dalem
Cikundul.

Sanghyang Borosngora mempunyai empat orang saudara dan pada usia 14 tahun ia
diperintah sang ayah untuk berziarah ke tanah suci Mekkah. Pada bulan Safar 1101
H Sanghyang Borosngora berangkat ke Mekkah yang lama perjalanannya adalah 6
tahun.

Sepulang dari tanah suci, Sanghyang Borosngora mendapat julukan Syeikh Haji
Sampulur Sauma Dipa Ulama. Tiba di kampung halamannya Kerajaan Singacala, sang
ayah ternyata telah meninggal dunia. Borosngora kemudian berniat menurunkan
ilmunya dan menyampaikan ajaran Islam kepada rakyat Pajajaran Girang dan
Pajajaran Tengah, karena itu Borosngora mengembara ke nagari Sancang dan tanah
Jampang.

Pada hitungan windu pertama, Sanghyang Borosngora melakukan perjalanan kunjungan
ke tanah leluhurnya di Karantenan Gunung Sawal, nagari Sancang, Parakan Tilu,
Kandangwesi, Gunung Wayang, Gunung Kendan (Galuh Wiwitan), Dayeuhkolot (Sagalaherang),
nagari Wanayasa Rajamantri, Bayabang (menemui Kyai Nagasasra), Paringgalaya (sekarang
sudah terbenam oleh Waduk Jatiluhur) dan kemudian kembali ke Gunung Wayang.

Pada windu kedua ia berangkat ke Jampang Wetan, Gunung Patuha, Gunung Pucung
Pugur, Pasir Bentang, Gunung Masigit, Pager Ruyung, Pagelarang, Jampang Tengah,
Curug Supit, Cihonje, Teluk Ratu, Gunung Sunda, Cipanegah, Cicatih kemudian
mengunjungi Salaka Domas di Sela Kancana, Cipanengah, Cimandiri.

Windu ketiga Sanghyang Borosngora pergi ke Jampang Tengah mendirikan padepokan
di Hulu Sungai Cikaso, Taman Mayang Sari (kuta jero), Jampang Kulon. Di tempat
ini ia dikenal dengan nama Haji Soleh dan Haji Mulya. Setelah itu ia kembali ke
Cipanengah, Gunung Rompang, di tempat ini ia dikenal sebagai Syeikh Haji Dalem
Sepuh.

Sanghyang Borosngora menikahi seorang gadis yatim, cucu angkat Kanjeng Kiai
Cinta Linuwih di Gunung Wayang. Gadis yatim ini adalah turunan langsung Senapati
Amuk Murugul Sura Wijaya, Mantri Agung Mareja, wakil Sri Maharaja Pajajaran
untuk wilayah Cirebon Girang dan Tengah.

Padaa windu ketiga, ia memiliki dua orang putra yaitu Hariang Sancang Kuning dan
Pangeran Hariang Kancana. Sanghyang Borosngora hidup sampai usia lanjut, ia
wafat setelah dari Gunung Rompang serta dimakamkan di suatu tempat di tepi
Sungai Cileuleuy, Kp Langkob, Desa Ciambar, Kecamatan Nagrak, Sukabumi.

Putra cikalnya yaitu Hariang Sancang Kuning melakukan napak tilas perjalanan
mendiang ayahnya ke Pajajaran Girang dan Tengah, kemudian ke Singacala (Panjalu).
Ia wafat dan dimakamkan di Cibungur, selatan Panjalu. Salah seorang keturunannya
yang terkenal adalah Raden Alit atau Haji Prawata Sari yang gigih menentang
penjajah Belanda. Ia dikenal sebagai pemberontak yang sangat ditakuti berjuluk "Karaman
Jawa". Sedangkan adik Sancang Kuning yakni Pangeran Hariang Kancana menjadi
Adipati Singacala kemudian hijrah ke Panjalu, setelah wafat ia dimakamkan di
Giri Wanakusumah, Situ Panjalu.

Pertemuan para raja di Gunung Rompang

Pada suatu masa beberapa orang raja dan adipati dari bekas kawasan Pajajaran
tengah dan Pajajaran girang yang mencakup wilayah Cianjur, Sukabumi dan
sekitarnya berkumpul di puncak gunung yang biasa dipakai sebagai lokasi
musyawarah oleh para raja dan adipati yaitu di Gunung Rompang (dalam bhs. Sunda
istilah rompang menunjukan keadaan senjata pedang, golok atau pisau yang sudah
retak bergerigi karena terlalu sering dipakai). Dinamai Gunung Rompang karena
pada masa akhir berdirinya kerajaan Sunda Pajajaran setelah melewati perang
selama 50 tahun, senjata para prajurit Pajajaran telah menjadi rompang karena
dipakai bertempur terus-menerus.

Lokasi ini dikenal juga sebagai "Karamat Pasamoan", adapun tokoh-tokoh yang
hadir pada pertemuan itu adalah :

1. Syeikh Dalem Haji Sepuh Sang Prabu Jampang Manggung yang berasal dari negeri
Singacala (Panjalu) bawahan Galuh, di tanah Pajampangan ia dikenal dengan
berbagai julukan yaitu sebagai Syeikh Haji Mulya, Syeikh Haji Sholeh, dan Syeikh
Aulia Mantili.

2. Kanjeng Aria Wira Tanu Cikundul atau Pangeran Jaya Lalana, bergelar Raden
Ngabehi Jaya Sasana, Pangeran Panji Nata Kusumah.

3. Raden Sanghyang Panaitan atau Raden Widaya bergelar Pangerang Rangga Sinom di
Sedang, Kanjeng Adipati Sukawayana.

4. Raden Adipati Lumaju Gede Nyilih Nagara di Cimapag.

5. Kanjeng Kyai Aria Wangsa Merta dari Tarekolot, Cikartanagara.

6. Kanjeng Dalem Nala Merta dari Cipamingkis.

7. Pangeran Hyang Jaya Loka dari Cidamar.

8. Pangeran Hyang Jatuna dari Kadipaten Kandang Wesi.

9. Pangeran Hyang Krutu Wana dari Parakan Tiga.

10. Pangeran Hyang Manda Agung dari Sancang.

Tujuan pertemuan para raja ini adalah untuk membahas keinginan para raja dan
adipati untuk menjalin kerjasama yang lebih erat terutama dalam usaha menangkal
serangan musuh dari luar. Untuk itu dibutuhkan adanya seorang pemimpin yang
tangguh, pemimpin yang memegang tangkai, yang disebut sebagai Raja Gagang (Raja
pemegang tangkai). Prabu Jampang Manggung mengusulkan agar Aria Wira Tanu Dalem
Cikundul yang ditunjuk sebagai Raja Gagang, dan usul ini diterima oleh semua
tokoh yang hadir.

Akhirnya, setelah menjalankan Shalat Jum'ah yang bertepatan dengan bulan purnama
Rabiul Awal 1076 H atau 2 September 1655 berdiri negeri Cianjur yang merupakan
negeri merdeka dan berdaulat, tidak tunduk kepada Kompeni, Mataram maupun Banten,
hanya tunduk kepada Allah SWT. Negeri ini dipimpin oleh Aria Wira Tanu, Dalem
Cikundul sebagai Raja Gagang.

Pemberontakan Raden Haji Alit Prawatasari

Raden Haji Alit Prawatasari adalah seorang ulama dari Jampang yang juga
merupakan keturunan Sancang Kuning dari Singacala (Panjalu). Pemberontakan Raden
Haji Alit Prawatasari dimulai pada bulan Maret 1703 dan terjadi sangat dahsyat.
Haji Prawatasari sanggup memobilisasi rakyat menjadi pasukannya sebanyak 3000
orang sehingga membuat VOC kalang kabut. Pada suatu ketika tersebar berita bahwa
RH Alit Prawatasari telah tewas. Pieter Scorpoi komandan pasukan VOC segera saja
menawan dan menggiring seluruh warga Jampang yang mencapai 1354 orang untuk
menjalani hukuman di Batavia melewati Cianjur.

Tujuan VOC tidak lain adalah untuk menghancurkan semangat dan kekuatan pengikut
RH Alit Prawatasari. Penduduk Jampang yang berbaris sepanjang jalan itu sebagian
besar tewas diperjalanan, yang tersisa hanyalah 582 orang dengan kondisi yang
menyedihkan, mereka kemudian digiring terus menuju ke Bayabang.

Pada waktu itu sesungguhnya RH Alit Prawatasari tidak tewas melainkan sedang
mengumpulkan wadya balad (pengikut) yang sangat besar, ia kemudian memimpin
penyerbuan ke kabupaten priangan wetan (timur). Pada tahun 1705 RH Alit
Prawatasari muncul lagi di Jampang dan kemudian mengepung sekeliling Batavia,
pada sekitar Januari di dekat Bogor.

Dikarenakan VOC tak mampu menangkap RH Alit Prawatasari, tiga orang tokoh
masyarakat yang ditangkap di Kampung Baru, Bogor dieksekusi mati oleh VOC. Pada
bulan Maret RH Alit Prawatasari membuat kekacauan di Sumedang utara, kemudian
pada Agustus 1705 RH Alit Prawatasari berhasil mengalahkan pasukan Belanda yang
mencoba mengejar dan menangkapnya melalui tiga kali pertempuran.

Akibat kegagalan-kegalannya menangkap RH Alit Prawatasari, maka VOC menjatuhkan
hukuman berat kepada siapa saja yang disangka membantu RH Alit Prawatasari,
namun jumlah pengikutnya bukan berkurang malah semakin bertambah banyak karena
rakyat bersimpati kepada perjuangannya.

Pihak Belanda lalu mengeluarkan ultimatum dan tenggat waktu selama enam bulan
kepada para bupati di Tatar Sunda agar menangkap RH Alit Prawatasari. Pada tahun
1706 RH Alit Prawatasari meninggalkan Tatar Sunda menuju ke Jawa Tengah. RH Alit
Prawatasari akhirnya tertangkap di Kartasura setelah ditipu oleh Belanda pada
tangal 12 Juli 1707.

Makam pahlawan yang terlupakan ini terletak di Dayeuh Luhur, Cilacap. Penduduk
setempat menyebutnya sebagai makam turunan Panjalu, makamnya ini sampai sekarang
masih sering diziarahi oleh penduduk sekitar dan peziarah dari Ciamis.

[http://www.urangsunda.net ]

[sunting] Prabu Rahyang Kuning

Rahyang Kuning menggantikan Sanghyang Borosngora menjadi Raja Panjalu, akibat
kesalahpahaman dengan adiknya yang bernama Rahyang Kancana sempat terjadi
perseteruan yang akhirnya dapat didamaikan oleh Guru Aji Kampuh Jaya dari
Cilimus. Rahyang Kuning kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan tahta Panjalu
kepada Rahyang Kancana.

Menurut Babad Panjalu, perselisihan ini dikenal dengan peristiwa Ranca Beureum.
Peristiwa ini terjadi sewaktu Prabu Rahyang Kuning bermaksud menguras air Situ
Lengkong untuk diambil ikannya (Sunda:ngabedahkeun). Rahyang Kuning mengutus
patih kerajaan untuk menjemput sang ayah Sanghyang Borosngora di Jampang
Manggung agar menghadiri acara itu. Namun karena Sanghyang Borosngora
berhalangan, maka ia menunjuk Rahyang Kancana untuk mewakili sang ayah
menghadiri acara tersebut.

Berhubung hari yang telah ditentukan untuk perayaan itu semakin dekat, Rahyang
Kuning memerintahkan para abdinya untuk mulai membobol Situ Lengkong sambil
menunggu kedatangan ayahnya, air pembuangannya dialirkan melalui daerah jalan
Sriwinangun sekarang. Sang Prabu turun langsung memimpin para abdi dan rakyatnya
berbasah-basahan di tengah cuaca dingin di pagi buta itu. Untuk sekedar
menghangatkan badan, Rahyang Kuning menyalakan api unggun sambil berdiang
menghangatkan telapak tangannya menghadap ke arah barat.

Pada saat yang bersamaan dari arah barat, sang adik Rahyang Kancana bersama
rombongan pasukan pengawalnya tiba di sekitar daerah Sriwinangun yang akan
dilewati dan terkejut mendapati Situ Lengkong telah mulai dikeringkan tanpa
menunggu kedatangannya sebagai wakil sang ayah. Rahyang Kancana yang tersinggung
lalu membendung saluran pembuangan air itu dengan tergesa-gesa. Akibatnya
meskipun sudah dibendung, tetapi tempat itu masih dipenuhi rembesan air dan
gundukan tanah tak beraturan sehingga sampai sekarang tempat itu dikenal dengan
nama Cibutut (Bhs. Sunda: butut artinya jelek).

Rahyang Kuning yang tengah menghangatkan telapak tangannya menghadapi api unggun
terkejut melihat kedatangan Rahyang Kancana bersama pasukan pengawalnya yang
dipenuhi emosi. Sebaliknya Rahyang Kancana mengira kakaknya itu sedang menunggu
untuk menantangnya adu kesaktian karena ia telah membendung air Situ Lengkong
supaya tidak kering. Singkat cerita, akibat kesalahpahaman tersebut terjadilah
duel pertarungan antara Rahyang Kancana bersama pasukan pengawalnya melawan
Rahyang Kuning bersama pasukan pengawal kerajaan, akibat pertempuran itu banyak
korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak, akibatnya sebuah ranca (rawa atau
danau dangkal) airnya menjadi berwarna merah oleh genangan darah sehingga sampai
sekarang dikenal dengan nama Ranca Beureum (Bhs. Sunda: beureum artinya merah).

Perang saudara ini baru berakhir setelah didamaikan oleh Guru Aji Kampuhjaya,
ulama kerajaan yang sangat dihormati sekaligus sahabat Prabu Sanghyang
Borosngora. Rahyang Kuning yang menyesal karena telah menimbulkan perselisihan
tersebut menyerahkan tahta Panjalu kepada Rahyang Kancana dan meninggalkan
kaprabon lalu mengembara ke wilayah selatan Galuh.

Rahyang Kuning di akhir hayatnya menjadi Raja di Kawasen (Ciamis Selatan),
jasadnya dibawa pulang ke Panjalu dan dimakamkan di Kapunduhan Cibungur, Desa
Kertamandala, Kecamatan Panjalu.

[sunting] Prabu Rahyang Kancana

Rahyang Kancana melanjutkan tahta Panjalu dari kakaknya, untuk melupakan
peristiwa berdarah perang saudara di Ranca Beureum ia memindahkan kaprabon dari
Nusa Larang ke Dayeuh Nagasari, sekarang termasuk wilayah Desa Ciomas Kecamatan
Panjalu.

Rahyang Kancana mempunyai dua orang putera yaitu:

1) Rahyang Kuluk Kukunangteko, dan

2) Rahyang Ageung.

Prabu Rahyang Kancana setelah mangkat dipusarakan di Nusa Larang Situ Lengkong.
Pusara Prabu Rahyang Kancana sampai sekarang selalu ramai didatangi para
peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.

[sunting] Prabu Rahyang Kuluk Kukunangteko

Rahyang Kuluk Kukunangteko menggantikan Rahyang Kancana menduduki tahta Panjalu,
ia didampingi oleh adiknya yang bernama Rahyang Ageung sebagai Patih Panjalu.
Sang Prabu mempunyai seorang putera bernama Rahyang Kanjut Kadali Kancana.

Pusara Rahyang Kuluk Kukunangteko terletak di Cilanglung, Simpar, Panjalu.

[sunting] Prabu Rahyang Kanjut Kadali Kancana

Rahyang Kanjut Kadali Kancana menggantikan ayahnya sebagai Raja Panjalu, ia
mempunyai seorang putera bernama Rahyang Kadacayut Martabaya. Rahyang Kanjut
Kadali Kancana setelah mangkat dipusarakan di Sareupeun Hujungtiwu, Panjalu.

[sunting] Prabu Rahyang Kadacayut Martabaya

Rahyang Kadacayut Martabaya naik tahta menggantikan ayahnya, ia mempunyai
seorang anak bernama Rahyang Kunang Natabaya.

Rahyang Kadacayut Martabaya jasadnya dipusarakan di Hujungwinangun, Situ
Lengkong Panjalu.

[sunting] Prabu Rahyang Kunang Natabaya

Rahyang Kunang Natabaya menduduki tahta Panjalu menggantikan ayahnya, ia menikah
dengan Nyai Apun Emas. Nyai Apun Emas adalah anak dari Nyai Tanduran di Anjung (Apun
di Anjung) yang menikah dengan Prabu di Galuh Cipta Permana (1595-1608), jadi
Apun Emas adalah saudari dari Bupati Galuh Adipati Panaekan (1608-1625).
Sementara Nyai Tanduran di Anjung adalah puteri Maharaja Kawali.

Dari perkawinannya dengan Nyai Apun Emas, Prabu Rahyang Kunang Natabaya
mempunyai tiga orang putera yaitu :

1) Raden Arya Sumalah,

2) Raden Arya Sacanata, dan

3) Raden Arya Dipanata (kelak diangkat menjadi Bupati Pagerageung oleh Mataram).

Pada masa kekuasaan Prabu Rahyang Kunang Natabaya ini, Panembahan Senopati (1586-1601)
berhasil menaklukkan Cirebon beserta daerah-daerah bawahannya termasuk Panjalu.

Pusara Prabu Rahyang Kunang Natabaya terletak di Ciramping, Desa Simpar, Panjalu.

[sunting] Raden Arya Sumalah

Arya Sumalah naik tahta Panjalu bukan sebagai Raja, tapi sebagai Bupati di bawah
kekuasaan Mataram. Ia menikah dengan Ratu Tilarnagara puteri dari Bupati Talaga
yang bernama Sunan Ciburuy atau yang dikenal juga dengan nama Pangeran
Surawijaya, dari pernikahannya itu Arya Sumalah mempunyai dua orang anak, yaitu:

1) Ratu Latibrangsari dan

2) Raden Arya Wirabaya.

Arya Sumalah setelah wafat dimakamkan di Buninagara Simpar, Panjalu.

[sunting] Pangeran Arya Sacanata atau Pangeran Arya Salingsingan

Raden Arya Sumalah wafat dalam usia muda dan meninggalkan putera-puterinya yang
masih kecil. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan di Kabupaten Panjalu Raden Arya
Sacanata diangkat oleh Sultan Agung (1613-1645) sebagai Bupati menggantikan
kakaknya dengan gelar Pangeran Arya Sacanata.

Pangeran Arya Sacanata juga memperisteri Ratu Tilarnagara puteri Bupati Talaga
Sunan Ciburuy yang merupakan janda Arya Sumalah. Pangeran Arya Sacanata
mempunyai banyak keturunan, baik dari garwa padminya yaitu Ratu Tilarnagara
maupun dari isteri-isteri selirnya (ada sekitar 20 orang anak), anak-anaknya itu
dikemudian hari menjadi pembesar-pembesar di tanah Pasundan.

Dua belas diantara putera-puteri Pangeran Arya Sacanata itu adalah:

1) Raden Jiwakrama (Cianjur),

2) Raden Ngabehi Suramanggala,

3) Raden Wiralaksana (Tengger, Panjalu),

4) Raden Jayawicitra (Pamekaran, Panjalu),

5) Raden Dalem Singalaksana (Cianjur),

6) Raden Dalem Jiwanagara (Bogor),

7) Raden Arya Wiradipa (Maparah, Panjalu),

8) Nyi Raden Lenggang,

9) Nyi Raden Tilar Kancana,

10) Nyi Raden Sariwulan (Gandasoli, Sukabumi),

11) Raden Yudaperdawa (Gandasoli, Sukabumi), dan

12) Raden Ngabehi Dipanata.

Putera Sultan Agung, Sunan Amangkurat I (1645-1677) pada tahun 1656-1657 secara
sepihak mencopot jabatan Pangeran Arya Sacanata sebagai Bupati Panjalu yang
diangkat oleh Sultan Agung serta menghapuskan Kabupaten Panjalu dengan membagi
wilayah Priangan menjadi 12 Ajeg; salah satunya adalah Ajeg Wirabaya yang
meliputi wilayah Kabupaten Panjalu, Utama dan Bojonglopang serta dikepalai oleh
keponakan sekaligus anak tirinya yaitu Raden Arya Wirabaya sehingga membuat
Pangeran Arya Sacanata mendendam kepada Mataram.

Suatu ketika Pangeran Arya Sacanata ditunjuk oleh mertuanya yang juga Bupati
Talaga Sunan Ciburuy untuk mewakili Talaga mengirim seba (upeti) ke Mataram.
Pada kesempatan itu Pangeran Arya Sacanata menyelinap ke peraduan Sinuhun
Mataram dan mempermalukanya dengan memotong sebelah kumisnya sehingga
menimbulkan kegemparan besar di Mataram. Segera saja Pangeran Arya Sacanata
menjadi buruan pasukan Mataram, namun hingga akhir hayatnya Pangeran Arya
Sacanata tidak pernah berhasil ditangkap oleh pasukan Mataram sehingga ia
mendapat julukan Pangeran Arya Salingsingan (dalam Bahasa Sunda kata "salingsingan"
berarti saling berpapasan tapi tidak dikenali).

Pangeran Arya Sacanata menghabiskan hari tuanya dengan meninggalkan kehidupan
keduniawian dan memilih hidup seperti petapa mengasingkan diri di tempat-tempat
sunyi di sepanjang hutan pegunungan dan pesisir Galuh. Mula-mula ia mendirikan
padepokan di Gandakerta sebagai tempatnya berkhalwat (menyepi), Sang Pangeran
kemudian berkelana ke Palabuhan Ratu, Kandangwesi, Karang, Lakbok, kemudian
menyepi di Gunung Sangkur, Gunung Babakan Siluman, Gunung Cariu, Kuta Tambaksari
dan terakhir di Nombo, Dayeuhluhur. Pangeran Arya Sacanata wafat dan dipusarakan
di Nombo, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

[sunting] Raden Arya Wirabaya

Sewaktu Sunan Amangkurat I berkuasa (1645-1677) pada sekitar tahun 1656-1657
wilayah Mancanagara Kilen (Mataram Barat) dibagi menjadi dua belas Ajeg (daerah
setingkat kabupaten) serta menghapuskan jabatan Wedana Bupati Priangan,
keduabelas Ajeg itu adalah: Sumedang, Parakan Muncang (Bandung Timur), Bandung,
Sukapura (Tasikmalaya), Karawang, Imbanagara (Ciamis), Kawasen (Ciamis Selatan),
Wirabaya (Ciamis Utara termasuk Kabupaten Panjalu, Utama dan Bojonglopang),
Sindangkasih (Majalengka), Banyumas, Ayah/Dayeuhluhur (Kebumen, Cilacap) dan
Banjar (Ciamis Timur).

Pada waktu itulah Arya Wirabaya diangkat oleh Sunan Amangkurat I menjadi Kepala
Ajeg Wirabaya sekaligus menggantikan Pangeran Arya Sacanata yang tidak lagi
menjabat Bupati karena Kabupaten Panjalu telah dihapuskan dan dimasukkan kedalam
Ajeg Wirabaya.

Arya Wirabaya mempunyai seorang putera yang bernama Raden Wirapraja, setelah
wafat jasad Arya Wirabaya dimakamkan di Cilamping, Panjalu, Ciamis

[sunting] Raden Tumenggung Wirapraja

Raden Wirapraja menggantikan ayahnya menjadi Bupati Panjalu dengan gelar Raden
Tumenggung Wirapraja. Pada masa pemerintahannya kediaman bupati dipindahkan dari
Dayeuh Nagasari, Ciomas ke Dayeuh Panjalu sekarang.

Tumenggung Wirapraja setelah mangkat dimakamkan di Kebon Alas Warudoyong,
Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis.

[sunting] Raden Tumenggung Cakranagara I

Salah seorang putera Pangeran Arya Sacanata yang bernama Arya Wiradipa
memperisteri Nyi Mas Siti Zulaikha puteri Tandamui dari Cirebon, ia bersama
kerabat dan para kawula-balad (abdi dan rakyatnya) dari keraton Talaga
mendirikan pemukiman yang sekarang menjadi Desa Maparah, Panjalu. Dari
pernikahannya itu Arya Wiradipa mempunyai empat orang anak, yaitu:

1) Raden Ardinata,

2) Raden Cakradijaya,

3) Raden Prajasasana, dan

4) Nyi Raden Ratna Gapura.

Raden Prajasasana yang setelah dewasa dikenal juga dengan nama Raden Suragostika
mengabdi sebagai pamong praja bawahan Pangeran Arya Cirebon (1706-1723) yang
menjabat sebagai Opzigter (Pemangku Wilayah) VOC untuk wilayah Priangan (Jawa
Barat) dan bertugas mengepalai dan mengatur para bupati Priangan. Raden
Suragostika yang dianggap berkinerja baik dan layak menduduki jabatan bupati
kemudian diangkat oleh Pangeran Arya Cirebon menjadi Bupati Panjalu dengan gelar
Raden Tumenggung Cakranagara menggantikan Tumenggung Wirapraja.

Tumenggung Cakranagara I memperisteri Nyi Raden Sojanagara puteri Ratu Latibrang
Sari (kakak Arya Wirabaya) sebagai garwa padmi (permaisuri) dan menurunkan tiga
orang putera, yaitu:

1) Raden Cakranagara II,

2) Raden Suradipraja, dan

3) Raden Martadijaya.

Sementara dari garwa ampil (isteri selir) Tumenggung Cakranagara I juga
mempunyai empat orang puteri, yaitu:

1) Nyi Raden Panatamantri,

2) Nyi Raden Widaresmi.

3) Nyi Raden Karibaningsih, dan

4) Nyi Raden Ratnaningsih.

Tumenggung Cakranagara I setelah wafat dimakamkan di Cinagara, Desa Simpar,
Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.

[sunting] Raden Tumenggung Cakranagara II

Raden Cakranagara II menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Panjalu
dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara II, sedangkan adiknya yang bernama
Raden Suradipraja diangkat menjadi Patih Panjalu dengan gelar Raden Demang
Suradipraja.

Tumenggung Cakranagara II mempunyai enam belas orang anak dari garwa padmi dan
isteri selirnya, keenambelas putera-puterinya itu adalah:

1) Nyi Raden Wijayapura,

2) Nyi Raden Natakapraja,

3) Nyi Raden Sacadinata,

4) Raden Cakradipraja,

5) Raden Ngabehi Angreh,

6) Raden Dalem Cakranagara III,

7) Nyi Raden Puraresmi,

8) Nyi Raden Adiratna,

9) Nyi Raden Rengganingrum,

10) Nyi Raden Janingrum,

11) Nyi Raden Widayaresmi,

12) Nyi Raden Murdaningsih,

13) Raden Demang Kertanata,

14) Raden Demang Argawijaya,

15) Nyi Raden Adipura, dan

16) Nyi Raden Siti Sarana.

Tumenggung Cakranagara II setelah wafat dimakamkan di Puspaligar, Kecamatan
Panjalu, Kabupaten Ciamis.

[sunting] Raden Tumenggung Cakranagara III

Raden Cakranagara III sebagai putera tertua dari garwa padmi (permaisuri)
menggantikan posisi ayahnya sebagai Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung
Cakranagara III.

Pada tahun 1819 ketika Pemerintah Hindia-Belanda dibawah pimpinan Gubernur
Jenderal G.A.G.Ph. Baron Van der Capellen (1816-1836) dikeluarkanlah kebijakan
untuk menggabungkan Kabupaten Panjalu, Kawali, Distrik Cihaur dan Rancah kedalam
Kabupaten Galuh. Berdasarkan hal itu maka Tumenggung Cakranagara III
dipensiunkan dari jabatannya sebagai Bupati Panjalu dan sejak itu Panjalu
menjadi kademangan (daerah setingkat wedana) di bawah Kabupaten Galuh.

Pada tahun itu Bupati Galuh Wiradikusumah digantikan oleh puteranya yang bernama
Adipati Adikusumah (1819-1839), sedangkan di Panjalu pada saat yang bersamaan
putera tertua Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Sumawijaya diangkat
menjadi Demang (Wedana) Panjalu dengan gelar Raden Demang Sumawijaya, sementara
itu putera ketujuh Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Cakradikusumah
diangkat menjadi Wedana Kawali dengan gelar Raden Arya Cakradikusumah.

Tumenggung Cakranagara III mempunyai dua belas orang putera-puteri, yaitu:

1) Raden Sumawijaya (Demang Panjalu),

2) Raden Prajasasana Kyai Sakti (Nusa Larang, Panjalu),

3) Raden Aldakanata,

4) Raden Wiradipa,

5) Nyi Raden Wijayaningrum,

6) Raden Jibjakusumah,

7) Raden Cakradikusumah (Wedana Kawali),

8) Raden Cakradipraja,

9) Raden Baka,

10) Nyi Raden Kuraesin,

11) Raden Raksadipraja (Kuwu Ciomas, Panjalu), dan

12) Raden Prajadinata (Kuwu Maparah, Panjalu).

Tumenggung Cakranagara III wafat pada tahun 1853 dan dipusarakan di Nusa Larang
Situ Lengkong Panjalu berdekatan dengan pusara Prabu Rahyang Kancana putera
Prabu Sanghyang Borosngora.

[sunting] Raden Demang Sumawijaya

Raden Sumawijaya pada tahun 1819 diangkat menjadi Demang Panjalu dengan gelar
Raden Demang Sumawijaya. Adiknya yang bernama Raden Cakradikusumah pada waktu
yang berdekatan juga diangkat menjadi Wedana Kawali dengan gelar Raden Arya
Cakradikusumah. Demang Sumawijaya mempunyai tiga orang anak, yaitu:

1) Raden Aldakusumah,

2) Nyi Raden Asitaningsih, dan

3) Nyi Raden Sumaningsih.

Demang Sumawijaya setelah wafat dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu.

[sunting] Raden Demang Aldakusumah

Raden Aldakusumah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Demang Panjalu dengan
gelar Raden Demang Aldakusumah, ia mempunyai empat orang anak, yaitu:

1) Raden Kertadipraja (Reumalega, Panjalu),

2) Nyi Raden Wijayaningsih,

3) Nyi Raden Kasrengga (Reumalega, Panjalu), dan

4) Nyi Raden Sukarsa Karamasasmita (Reumalega, Panjalu).

Semantara itu adik sepupunya yang bernama Raden Argakusumah (putera Wedana
Kawali Raden Arya Cakradikusumah) diangkat menjadi Bupati Dermayu (sekarang
Indramayu) dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara IV. Raden Demang
Aldakusumah dan Raden Tumenggung Argakusumah (Cakranagara IV) setelah wafatnya
dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu.

Putera tertua Demang Aldakusumah yang bernama Raden Kertadipraja tidak lagi
menjabat sebagai Demang Panjalu karena Panjalu kemudian menjadi salah satu
wilayah kecamatan di Kabupaten Galuh, sementara ia sendiri tidak bersedia
diangkat menjadi Kuwu (Kepala Desa) Panjalu. Pada tahun 1915 Kabupaten Galuh
berganti nama menjadi Kabupaten Ciamis.

[sunting] Situ Lengkong

Situ Lengkong sekarang termasuk kedalam wilayah Desa/Kecamatan Panjalu Kabupaten
Ciamis Jawa Barat. Dalam Bahasa Sunda; kata situ artinya danau. Situ Lengkong
atau dikenal juga dengan Situ Panjalu terletak di ketinggian 700 m dpl. Di
tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau yang dinamai Nusa Larang atau Nusa
Gede atau ada juga yang menyebutnya sebagai Nusa Panjalu. Menurut legenda rakyat
dan Babad Panjalu, Situ Lengkong adalah sebuah danau buatan, sebelumnya daerah
ini adalah kawasan legok (bhs. Sunda : lembah) yang mengelilingi bukit bernama
Pasir Jambu (Bhs. Sunda: pasir artinya bukit).

Ketika Sanghyang Borosngora pulang menuntut ilmu dari tanah suci Mekkah, ia
membawa cinderamata yang salah satunya berupa air zamzam yang dibawa dalam
gayung batok kelapa berlubang-lubang (gayung bungbas). Air zamzam itu
ditumpahkan ke dalam lembah dan menjadi cikal-bakal atau induk air Situ Lengkong.
Bukit yang ada di tengah lembah itu menjelma menjadi sebuah pulau dan dinamai
Nusa Larang, artinya pulau terlarang atau pulau yang disucikan, sama halnya
seperti kota Mekkah yang berjuluk tanah haram yaitu tanah terlarang atau tanah
yang disucikan; artinya tidak sembarang orang boleh masuk dan terlarang berbuat
hal yang melanggar pantangan atau hukum di kawasan itu.

Pada masa pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora, pulau ini dijadikan pusat
pemerintahan Kerajaan Panjalu. Di Nusa Larang ini bersemayam juga jasad tokoh-tokoh
Kerajaan Panjalu yaitu Prabu Rahyang Kancana, Raden Tumenggung Cakranagara III,
Raden Demang Sumawijaya, Raden Demang Aldakusumah, Raden Tumenggung Argakusumah
(Cakranagara IV) dan Raden Prajasasana Kyai Sakti.

Situ Lengkong memiliki luas kurang lebih 67,2 hektare, sedangkan Nusa Larang
mempunyai luas sekitar 16 hektare. Pulau ini telah ditetapkan sebagai cagar alam
sejak tanggal 21 Februari 1919. Nusa Larang ini pada zaman Kolonial Belanda
dinamai juga Pulau Koorders sebagai bentuk penghargaan kepada Dr Koorders,
seorang pendiri sekaligus ketua pertama Nederlandsch Indische Vereeniging tot
Natuurbescherming, yaitu sebuah perkumpulan perlindungan alam Hindia Belanda
yang didirikan tahun 1863.

Sebagai seorang yang menaruh perhatian besar pada botani, Koorders telah
memelopori pencatatan berbagai jenis pohon yang ada di Pulau Jawa. Pekerjaannya
mengumpulkan herbarium tersebut dilakukan bersama Th Valeton, seorang ahli
botani yang membantu melakukan penelitian ilmiah komposisi hutan tropika.

Koorders dan rekannya itu pada akhirnya berhasil memberikan sumbangan pada dunia
ilmu pengetahuan. Berkat kerja kerasnya kemudian terlahir buku Bijdragen tot de
Kennis der Boomsoorten van Java, sebuah buku yang memberi sumbangan pengetahuan
tentang pohon-pohon yang tumbuh di Pulau Jawa.

Sebagai cagar alam, Nusa Larang memiliki vegetasi hutan primer yang relatif
masih utuh dan tumbuh secara alami. Di sana terdapat beberapa jenis flora
seperti Kondang (Ficus variegata), Kileho (Sauraula Sp), dan Kihaji (Dysoxylum).
Di bagian pulau yang lebih rendah tumbuh tanaman Rotan (Calamus Sp), Tepus (Zingiberaceae),
dan Langkap (Arenga).

Sedangkan fauna yang hidup di pulau itu antara lain adalah Tupai (Calosciurus
nigrittatus), Burung Hantu (Otus scop), dan Kelelawar (Pteropus vampyrus).

[sunting] Nyangku

Nyangku adalah suatu rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka
peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para Raja serta Bupati Panjalu
penerusnya yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit.

Upacara Nyangku 2003. Sesepuh Panjalu, berpakaian adat Sunda warna hitam dari
kiri ke kanan: HRM Tisna Argadipraja, HR Atong Tjakradinata.

Upacara Nyangku ini dilaksanakan pada Hari Senin atau Kamis terakhir Bulan
Maulud (Rabiul Awal), pada prosesi ini benda-benda pusaka itu dikeluarkan dari
tempat penyimpanannya di Pasucian Bumi Alit lalu dikirabkan menuju Nusa Larang
Situ Lengkong. Sesampainya di Nusa Larang, arak-arakan melakukan ritual
pembacaan doa bagi arwah leluhur Panjalu untuk menghormati jasa-jasa mereka di
hadapan pusara Prabu Rahyang Kancana.

Setelah itu, benda-benda pusaka diarak kembali ke Alun-alun Panjalu untuk
disucikan lalu disimpan kembali di Pasucian Bumi Alit. Tradisi Nyangku ini mirip
dengan upacara Sekaten di Yogyakarta juga Panjang Jimat di Cirebon, hanya saja
selain untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, acara Nyangku juga
dimaksudkan untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora yang telah
menyampaikan ajaran Islam kepada rakyat dan keturunannya.

Tradisi Nyangku ini konon telah dilaksanakan sejak zaman pemerintahan Prabu
Sanghyang Borosngora, pada waktu itu, Sang Prabu menjadikan prosesi adat ini
sebagai salah satu media Syiar Islam bagi rakyat Panjalu dan sekitarnya.

[sunting] Bumi Alit

Pasucian Bumi Alit Panjalu 2009

Pasucian Bumi Alit atau lebih populer disebut Bumi Alit saja, mulai dibangun
sebagai tempat penyimpanan pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora oleh
Prabu Rahyang Kancana di Dayeuh Nagasari, Ciomas. Kata-kata bumi alit dalam
Bahasa Sunda berarti "rumah kecil" .

Benda-benda pusaka yang tersimpan di Bumi Alit itu antara lain adalah:

1. Pedang, cinderamata dari Baginda Ali RA, sebagai senjata yang digunakan untuk
pembela diri dalam rangka menyebarluaskan agama Islam.

2. Cis, sebagai kelengkapan dalam berdakwah atau berkhutbah dalam rangka
menyebarluaskan ajaran agama Islam.

3. Keris Komando, senjata yang digunakan oleh Raja Panjalu sebagai penanda
kedudukan bahwa ia seorang Raja Panjalu.

4. Keris, sebagai pegangan para Bupati Panjalu.

5. Pancaworo, digunakan sebagai senjata perang pada zaman dahulu.

6. Bangreng, digunakan sebagai senjata perang pada zaman dahulu.

7. Gong kecil, digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan rakyat pada zaman
dahulu.

8. Kujang, senjata perang khas Sunda peninggalan seorang petapa sakti bernama
Pendita Gunawisesa Wiku Trenggana (Aki Garahang) yang diturunkan kepada para
Raja Panjalu.

Rd.Hanafi Argadipradja (1901-1973)

Pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Wirapraja bangunan Bumi Alit dipindahkan
dari Dayeuh Nagasari, Ciomas ke Dayeuh Panjalu seiring dengan perpindahan
kediaman Bupati Tumenggung Wirapraja ke Dayeuh Panjalu. Pasucian Bumi Alit
dewasa ini terletak di Kebon Alas, Alun-alun Panjalu.

Pada awalnya Bumi Alit berupa taman berlumut yang dibatasi dengan batu-batu
besar serta dilelilingi dengan pohon Waregu. Bangunan Bumi Alit berbentuk mirip
lumbung padi tradisional masyarakat Sunda berupa rumah panggung dengan kaki-kaki
yang tinggi, rangkanya terbuat dari bambu dan kayu berukir dengan dinding
terbuat dari bilik bambu sedangkan atapnya berbentuk seperti pelana terbuat dari
ijuk.

Ketika di Jawa Barat berkecamuk pemberontakan DI/TII S.M. Kartosuwiryo (1949-1962)
yang marak dengan perampokan, pembantaian dan pembakaran rumah penduduk oleh
para pemberontak, benda-benda pusaka yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit itu
diselamatkan ke kediaman sesepuh tertua keluarga Panjalu yaitu Raden Hanafi
Argadipradja, cucu Raden Demang Aldakusumah di Kebon Alas, Panjalu.

Pada tahun 1955, Bumi Alit dipugar oleh warga dan sesepuh Panjalu yang bernama R.H.
Sewaka (M. Sewaka) mantan Gubernur Jawa Barat (1947-1948, 1950-1952). Hasil
pemugaran itu menjadikan bentuk bangunan Bumi Alit yang sekarang, berupa
campuran bentuk mesjid zaman dahulu dengan bentuk modern, beratap susun tiga. Di
pintu masuk Museum Bumi Alit terdapat patung ular bermahkota dan di pintu
gerbangnya terdapat patung kepala gajah. Hingga kini, pemeliharaan Museum Bumi
Alit dilakukan oleh Pemerintah Desa Panjalu yang terhimpun dalam ‘Wargi Panjalu’
di bawah pengawasan Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Ciamis.

[sunting] Daftar Para Batara, Raja, Bupati dan Demang Panjalu Beserta Pusara/Petilasannya

1. Batara Tesnajati di Karantenan Gunung Sawal.

2. Batara Layah di Karantenan Gunung Sawal.

3. Batara Karimun Putih di Pasir Kaputihan Gunung Sawal.

4. Prabu Sanghyang Rangga Gumilang atau Sanghyang Rangga Sakti di Cipanjalu,
Desa Maparah, Panjalu.

5. Prabu Sanghyang Lembu Sampulur I di Cipanjalu, Desa Maparah, Panjalu.

6. Prabu Sanghyang Cakradewa di Cipanjalu, Desa Maparah, Panjalu.

7. Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II di Cimalaka Gunung Tampomas, Sumedang.

8. Prabu Sanghyang Borosngora (adik Sanghyang Lembu Sampulur II) di Jampang
Manggung, Sukabumi.

9. Prabu Rahyang Kuning di Cibungur, Desa Kertamandala, Panjalu.

10. Prabu Rahyang Kancana (adik Prabu Rahyang Kuning) di Nusa Larang, Situ
Lengkong Panjalu.

11. Prabu Rahyang Kuluk Kukunangteko di Cilanglung Desa simpar, Panjalu.

12. Prabu Rahyang Kanjut Kadali Kancana di Sareupeun, Desa Hujungtiwu, Panjalu.

13. Prabu Rahyang Kadacayut Martabaya di Hujung Winangun, Situ Lengkong Panjalu.

14. Prabu Rahyang Kunang Natabaya di Ciramping, Desa Simpar, Panjalu.

15. Raden Arya Sumalah di Buninagara, Desa Simpar, Panjalu.

16. Pangeran Arya Sacanata (adik R. Arya Sumalah) di Nombo Dayeuhluhur,
Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.

17. Raden Arya Wirabaya (anak R. Arya Sumalah) di Cilamping, Panjalu.

18. Raden Tumenggung Wirapraja (anak R. Arya Wirabaya) di Kebon Alas Warudoyong,
Panumbangan Ciamis.

19. Raden Tumenggung Cakranagara I (anak R. Arya Wiradipa bin Pangeran Arya
Sacanata) di Cinagara, Panjalu.

20. Raden Tumenggung Cakranagara II di Puspaligar, Panjalu.

21. Raden Tumenggung Cakranagara III di Nusa Larang, Situ Lengkong Panjalu.

22. Raden Demang Sumawijaya di Nusa Larang, Situ Lengkong Panjalu.

23. Raden Demang Aldakusumah di Nusa Larang, Situ Lengkong Panjalu.

[sunting] Mitos Maung Panjalu

Mempelajari sejarah dan kebudayaan Panjalu tidak akan lepas dari berbagai
tradisi, legenda, dan mitos yang menjadi dasar nilai-nilai kearifan budaya lokal,
salah satunya adalah mitos Maung Panjalu (Harimau Panjalu). Sekelumit kisah
mengenai Maung Panjalu adalah berlatar belakang hubungan dua kerajaan besar di
tanah Jawa yaitu Pajajaran (Sunda) dan Majapahit.

Menurut Babad Panjalu kisah Maung Panjalu berawal dari Dewi Sucilarang puteri
Prabu Siliwangi yang dinikahi Pangeran Gajah Wulung putera mahkota Raja Majaphit
Prabu Brawijaya yang diboyong ke Keraton Majapahit. Dalam kisah-kisah
tradisional Sunda nama Raja-raja Pajajaran (Sunda) disebut secara umum sebagai
Prabu Siliwangi sedangkan nama Raja-raja Majapahit disebut sebagai Prabu
Brawijaya.

Ketika Dewi Sucilarang telah mengandung dan usia kandungannya semakin mendekati
persalinan, ia meminta agar dapat melahirkan di tanah kelahirannya di Pajajaran,
sang pangeran mau tidak mau harus menyetujui permintaan isterinya itu dan
diantarkanlah rombongan puteri kerajaan Pajajaran itu ke kampung halamannya
disertai pengawalan tentara kerajaan.

Suatu ketika iring-iringan tiba di kawasan hutan belantara Panumbangan yang
masuk ke dalam wilayah Kerajaan Panjalu dan berhenti untuk beristirahat
mendirikan tenda-tenda. Di tengah gelapnya malam tanpa diduga sang puteri
melahirkan dua orang putera-puteri kembar, yang lelaki kemudian diberi nama
Bongbang Larang sedangkan yang perempuan diberi nama Bongbang Kancana. Ari-ari
kedua bayi itu disimpan dalam sebuah pendil (wadah terbuat dari tanah liat) dan
diletakkan di atas sebuah batu besar.

Kedua bocah kembar itu tumbuh menuju remaja di lingkungan Keraton Pakwan
Pajajaran. Satu hal yang menjadi keinginan mereka adalah mengenal dan menemui
sang ayah di Majapahit, begitu kuatnya keinginan itu sehingga Bongbang Larang
dan Bongbang Kancana sepakat untuk minggat, pergi secara diam-diam menemui ayah
mereka di Majapahit.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh mereka tiba dan beristirahat di
belantara kaki Gunung Sawal, Bongbang Larang dan Bongbang Kancana yang kehausan
mencari sumber air di sekitar tempat itu dan menemukan sebuah pendil berisi air
di atas sebuah batu besar yang sebenarnya adalah bekas wadah ari-ari mereka
sendiri.

Bongbang Larang yang tak sabar langsung menenggak isi pendil itu dengan lahap
sehingga kepalanya masuk dan tersangkut di dalam pendil seukuran kepalanya itu.
Sang adik yang kebingungan kemudian menuntun Bongbang Larang mencari seseorang
yang bisa melepaskan pendil itu dari kepala kakaknya. Berjalan terus kearah
timur akhirnya mereka bertemu seorang kakek bernama Aki Ganjar, sayang sekali
kakek itu tidak kuasa menolong Bongbang Larang, ia kemudian menyarankan agar
kedua remaja ini menemui Aki Garahang di pondoknya arah ke utara.

Aki Garahang yang ternyata adalah seorang pendeta bergelar Pendita Gunawisesa
Wiku Trenggana itu lalu memecahkan pendil dengan sebuah kujang sehingga terbelah
menjadi dua (kujang milik sang pendeta ini sampai sekarang masih tersimpan di
Pasucian Bumi Alit). Karena karomah atau kesaktian sang pendeta, maka pendil
yang terbelah dua itu yang sebelah membentuk menjadi selokan Cipangbuangan,
sedangkan sebelah lainnya menjadi kulah (kolam mata air) bernama Pangbuangan.

Sebagai tanda terima kasih, kedua remaja itu kemudian mengabdi kepada Aki
Garahang di padepokannya, sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Majapahit.
Suatu ketika sang pendeta bepergian untuk suatu keperluan dan menitipkan
padepokannya kepada Bongbang Larang dan Bongbang Kancana dan berpesan agar tidak
mendekati kulah yang berada tidak jauh dari padepokan.

Kedua remaja yang penuh rasa ingin tahu itu tak bisa menahan diri untuk
mendatangi kulah terlarang yang ternyata berair jernih, penuh dengan ikan
berwarna-warni. Bongbang Larang segera saja menceburkan diri kedalam kulah itu
sementara sang adik hanya membasuh kedua tangan dan wajah sambil merendamkan
kedua kakinya.

Betapa terkejutnya sang adik ketika Bongbang Larang naik ke darat ternyata wajah
dan seluruh tubuhnya telah ditumbuhi bulu seperti seekor harimau loreng. Tak
kalah kagetnya ketika Bongbang Kancana bercermin ke permukaan air dan ternyata
wajahnya pun telah berubah seperti harimau sehingga tak sadar menceburkan diri
kedalam kulah. Keduanyapun kini berubah menjadi dua ekor harimau kembar jantan
dan betina.

Hampir saja kedua harimau itu akan dibunuh oleh Aki Garahang karena dikira telah
memangsa Bongbang Larang dan Bongbang Kancana. Namun ketika mengetahui kedua
harimau itu adalah jelmaan dua putera-puteri kerajaan Pajajaran yang menjaga
padepokannya sang Pendeta tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berpendapat bahwa
kejadian itu sudah menjadi kehendak Yang Mahakuasa, ia berpesan agar kedua
harimau itu tidak mengganggu hewan peliharaan orang Panjalu, apalagi kalau
mengganggu orang Panjalu maka mereka akan mendapat kutukan darinya.

Kedua harimau jejadian itu berjalan tak tentu arah hingga tiba di Cipanjalu,
tempat itu adalah kebun milik Kaprabon Panjalu yang ditanami aneka sayuran dan
buah-buahan. Di bagian hilirnya terdapat pancuran tempat pemandian keluarga
Kerajaan Panjalu. Kedua harimau itu tak sengaja terjerat oleh sulur-sulur
tanaman paria oyong (sayuran sejenis terong-terongan) lalu jatuh terjerembab
kedalam gawul (saluran air tertutup terbuat dari batang pohon nira yang
dilubangi) sehingga aliran air ke pemandian itu tersumbat oleh tubuh mereka.

Prabu Sanghyang Cakradewa terheran-heran ketika melihat air pancuran di
pemandiannya tidak mengeluarkan air, ia sangat terkejut manakala diperiksa
ternyata pancurannya tersumbat oleh dua ekor harimau. Hampir saja kedua harimau
itu dibunuhnya karena khawatir membahayakan masyarakat, tapi ketika mengetahui
bahwa kedua harimau itu adalah jelmaan putera-puteri Kerajaan Pajajaran, sang
Prabu menjadi jatuh iba dan menyelamatkan mereka dari himpitan saluran air itu.

Sebagai tanda terima kasih kedua harimau itu bersumpah dihadapan Prabu Sanghyang
Cakradewa bahwa mereka tidak akan mengganggu orang Panjalu dan keturunannya,
bahkan bila diperlukan mereka bersedia datang membantu orang Panjalu yang berada
dalam kesulitan. Kecuali orang Panjalu yang meminum air dengan cara menenggak
langsung dari tempat air minum (teko, ceret, dsb), orang Panjalu yang menanam
atau memakan paria oyong, orang Panjalu yang membuat gawul (saluran air tertutup),
maka orang-orang itu berhak menjadi mangsa harimau jejadian tersebut.

Selanjutnya kedua harimau kembar itu melanjutkan perjalanan hingga tiba di
Keraton Majapahit dan ternyata setibanya di Majapahit sang ayah telah bertahta
sebagai Raja Majapahit. Sang Prabu sangat terharu dengan kisah perjalanan kedua
putera-puteri kembarnya, ia kemudian memerintahkan Bongbang Larang untuk menetap
dan menjadi penjaga di Keraton Pajajaran, sedangkan Bongbang Kancana diberi
tugas untuk menjaga Keraton Majapahit.

Pada waktu-waktu tertentu kedua saudara kembar ini diperkenankan untuk saling
menjenguk. Maka menurut kepercayaan leluhur Panjalu, kedua harimau itu selalu
berkeliaran untuk saling menjenguk pada setiap bulan Maulud.

[sunting] Referensi

Argadipraja, R. Duke. (1992). Babad Panjalu Galur Raja-raja Tatar Sunda. Bandung:
Mekar Rahayu.

Atlas Indonesia & Dunia Edisi 33 Propinsi di Indonesia. (2000). Jakarta. Pustaka
Sandro.

Ayatrohaedi. (2005). Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah
"Panitia Wangsakerta" dari Cirebon. Jakarta: Pustaka Jaya.

Babad Tanah Jawi (terj). 2007. Yogyakarta: Narasi.

Ekadjati, Edi S. (1977). Wawacan Sajarah Galuh. Bandung: EFEO.

Ekadjati, Edi S. (2005). Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Jakarta: Pustaka
Jaya.

Iskandar, Yoseph (1997). Sejarah Jawa Barat: Yuganing Rajakawasa. Bandung: Geger
Sunten.

Muljana, Slamet. (1979). Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta:
Bhratara.

Munoz, Paul Michel. (2006). Early Kingdoms of Indonesian Archipelago and the
Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet Pte Ltd.

Suganda, Her. Situ Lengkong dan Nusalarang, Wisata Alami yang Islami. Artikel
Harian Kompas, 21 Juni 2003.

Suganda, Her. Naskah Sunda Kuno Antara Sejarah dan Nilai Sakral. Artikel Harian
Kompas, 24 Mei 2008.

Sutarwan, Aam Permana. Gus Dur "Merevisi" Sejarah Situ Lengkong Panjalu, Air
Situ Lengkong berasal dari Mekah. Artikel Harian Pikiran Rakyat, 10 Juli 2000.

Sumaryadi, Sugeng/Eriez M Rizal. Menengok Rahasia Sukses Warga Panjalu. Artikel
Harian Media Indonesia, 13 Maret 2004.

Sumaryadi, Sugeng. Sejarah Panjang yang Terus Dikenang. Artikel Harian Media
Indonesia, 13 Maret 2004.

Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972). Galuh Ciamis dan Tinjauan Sejarah.

Kategori: Kerajaan di Nusantara

Halaman Pembicaraan Sunting↑ Versi terdahulu

Coba Beta Masuk log / buat akun

Pencarian

Navigasi

Halaman Utama

Perubahan terbaru

Peristiwa terkini

Halaman sembarang

Komunitas

Warung Kopi

Portal komunitas

Bantuan

wikipedia

Perihal Wikipedia

Pancapilar

Kebijakan

Menyumbang

Buat buku

Tambah halaman

Bantuan

Kotak peralatan

Pranala balik

Perubahan terkait

Halaman istimewa

Versi cetak

Pranala permanen

Kutip artikel ini

Buat PDF

Halaman ini terakhir diubah pada 09:55, 1 Agustus 2009. Teks tersedia di bawah
Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin
berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. Kebijakan privasi
Perihal Wikipedia Penyangkalan
Kerajaan Sumedang Larang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan
berdiri sejak abad ke-15 Masehi di Jawa Barat, Indonesia. Popularitas kerajaan
ini tidak sebesar popularitas kerajaan Demak, Mataram, Banten dan Cirebon dalam
literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Tapi, keberadaan
kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang sangat kuat pengaruhnya dalam
penyebaran Islam di Jawa Barat, sebagaimana yang dilakukan oleh Kerajaan Cirebon
dan Kerajaan Banten.
Daftar isi [sembunyikan]

1 Sejarah

2 Asal-mula nama

3 Pemerintahan berdaulat

3.1 Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)

3.2 Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri

3.3 Prabu Geusan Ulun

4 Pemerintahan di bawah Mataram

4.1 Dipati Rangga Gempol

4.2 Dipati Rangga Gede

4.3 Dipati Ukur

5 Pembagian wilayah kerajaan

6 Peninggalan budaya

7 Lihat pula

8 Catatan kaki

9 Pranala luar 

[sunting] Sejarah

Kerajaan Sumedang Larang (kini Kabupaten Sumedang) adalah salah satu dari
berbagai kerajaan Sunda yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Terdapat
kerajaan Sunda lainnya seperti Kerajaan Pajajaran yang juga masih berkaitan erat
dengan kerajaan sebelumnya yaitu (Kerajaan Sunda-Galuh), namun keberadaan
Kerajaan Pajajaran berakhir di wilayah Pakuan, Bogor, karena serangan aliansi
kerajaan-kerajaan Cirebon, Banten dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Sumedang
Larang dianggap menjadi penerus Pajajaran dan menjadi kerajaan yang memiliki
otonomi luas untuk menentukan nasibnya sendiri.
No. Masa[1] Tahun
1 Kerajaan Sumedang Larang 900 - 1601
2 Pemerintahan Mataram II 1601 - 1706
3 Pemerintahan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) 1706 - 1811
4 Pemerintahan Inggris 1811 - 1816
5 Pemerintahan Belanda / Nederland Oost-Indie 1816 - 1942
6 Pemerintahan Jepang 1942 - 1945
7 Pemerintahan Republik Indonesia 1945 - 1947
8 Pemerintahan Republik Indonesia / Belanda 1947 - 1949
9 Pemerintahan Negara Pasundan 1949 - 1950
10 Pemerintahan Republik Indonesia 1950 - sekarang


[sunting] Asal-mula nama

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama
Hindu, yang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata
sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan
zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama
yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur)
dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Kemudian pada masa zaman
Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam,
Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku
dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang
berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada
juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya
menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.

[sunting] Pemerintahan berdaulat
No.  Nama[1] Tahun
1  Nama Raja-raja Kerajaan Sumedang Larang 
a Prabu Guru Aji Putih 900
b Prabu Agung Resi Cakrabuana / Prabu Taji Malela 950
c Prabu Gajah Agung 980
d Sunan Guling 1000
e Sunan Tuakan 1200
f Nyi Mas Ratu Patuakan 1450
g Ratu Pucuk Umun / Nyi Mas Ratu Dewi Inten Dewata 1530 - 1578
h Prabu Geusan Ulun / Pangeran Angkawijaya 1578 - 1601
2  Nama Bupati Wedana Masa Pemerintahan Mataram II 
a R. Suriadiwangsa / Pangeran Rangga Gempol I 1601 - 1625
b Pangeran Rangga Gede 1625 - 1633
c Pangeran Rangga Gempol II 1633 - 1656
d Pangeran Panembahan / Pangeran Rangga Gempol III 1656 - 1706
3  Nama Bupati Wedana Masa Pemerintahan VOC, Inggris, Belanda dan Jepang 
a Dalem Tumenggung Tanumaja 1706 - 1709
b Pangeran Karuhun 1709 - 1744
c Dalem Istri Rajaningrat 1744 - 1759
d Dalem Anom 1759 - 1761
e Dalem Adipati Surianagara 1761 - 1765
f Dalem Adipati Surialaga 1765 - 1773
g Dalem Adipati Tanubaja (Parakan Muncang) 1773 - 1775
h Dalem Adipati Patrakusumah (Parakan Muncang) 1775 - 1789
i Dalem Aria Sacapati 1789 - 1791
j Pangeran Kornel / Pangeran Kusumahdinata 1791 - 1800
k Bupati Republik Batavia Nederland 1800 - 1810
l Bupati Kerajaan Nederland, dibawah Lodewijk, Adik Napoleon Bonaparte 1805 -
1810
m Bupati Kerajaan Nederland, dibawah Kaisar Napoleon Bonaparte 1810 - 1811
n Bupati Masa Pemerintahan Inggris 1811 - 1815
o Bupati Kerajaan Nederland 1815 - 1828
p Dalem Adipati Kusumahyuda / Dalem Ageung 1828 - 1833
q Dalem Adipati Kusumahdinata / Dalem Alit 1833 - 1834
r Dalem Tumenggung Suriadilaga / Dalem Sindangraja 1834 - 1836
s Pangeran Suria Kusumah Adinata / Pangeran Soegih 1836 - 1882
t Pangeran Aria Suria Atmaja / Pangeran Mekkah 1882 - 1919
u Dalem Adipati Aria Kusumahdilaga / Dalem Bintang 1919 - 1937
v Dalem Tumenggung Aria Suria Kusumah Adinata / Dalem Aria Sumantri 1937 - 1942
w Bupati Masa Pemerintahan Jepang 1942 - 1945
x Bupati Masa Peralihan Republik Indonesia 1945 - 1946
4  Bupati Masa Pemerintahan Republik Indonesia 
a Raden Hasan Suria Sacakusumah 1946 - 1947
5  Bupati Masa Pemerintahan Belanda / Indonesia 
a Raden Tumenggung M. Singer 1947 - 1949
6  Bupati Masa Pemerintahan Negara Pasundan 
a Raden Hasan Suria Sacakusumah 1949 - 1950
7  Bupati Masa Pemerintahan Republik Indonesia 
a Radi (Sentral Organisasi Buruh Republik Indonesia) 1950
b Raden Abdurachman Kartadipura 1950 - 1951
c Sulaeman Suwita Kusumah 1951 - 1958
d Antan Sastradipura 1958 - 1960
e Muhammad Hafil 1960 - 1966
f Adang Kartaman 1966 - 1970
g Drs. Supian Iskandar 1970 - 1972
h Drs. Supian Iskandar 1972 - 1977
i Drs. Kustandi Abdurahman 1977 - 1983
j Drs. Sutarja 1983 - 1988
k Drs. Sutarja 1988 - 1993
l Drs. H. Moch. Husein Jachja Saputra 1993 - 1998
m Drs. H. Misbach 1998 - 2003
n H. Don Murdono,SH. Msi 2003 - 2008
o H. Don Murdono,SH. Msi 2008 - 2013


[sunting] Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)

Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai
pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong
Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Ia punya
tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.

Berdasarkan Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua
putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan
yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja.
Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah
harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang
Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan
kelapa muda (duwegan/degan). Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan
beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan
kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota
harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung,
menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk
sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang
diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu
Lembu Agung dan pera keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan
Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.

Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia
dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra,
pertama Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti
suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang melanjutkan
menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan Guling meninggal
kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan Tuakan. Setelah itu
kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu
Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu
Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri
bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal
menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun.

Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran
Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan
Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung
Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran
Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim.
Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang.
Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.

[sunting] Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri

Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan
Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang
kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579
M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama
serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu
dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi,
seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan
agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran
Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan
Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang
dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.

Dari pernikahan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri memiliki enam orang anak,
yaitu :

Pangeran Angkawijaya (yang tekenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun)

Kiyai Rangga Haji, yang mengalahkan Aria Kuda Panjalu ti Narimbang, supaya
memeluk agama Islam.

Kiyai Demang Watang di Walakung.

Santowaan Wirakusumah, yang keturunannya berada di Pagaden dan Pamanukan, Subang.

Santowaan Cikeruh.

Santowaan Awiluar.

Ratu Pucuk Umun dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean Gede di Kota Sumedang.

[sunting] Prabu Geusan Ulun

Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya,
Pangeran Santri. Ia menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang,
yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan,
Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan
Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang
sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada
tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga
Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan
kepemimpinannya.

Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan
sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang
dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena
penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan
Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat
prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang
dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante.
Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran,
kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger,
tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan
Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu
Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah
Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala
Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota
tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran
Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan
Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas
wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah
utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.

Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan
Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan
Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu
mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan
Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya,
banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada
Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan
bergabung dengan Kesultanan Mataram dan beliau pergi ke Demak dengan tujuan
untuk mendalami agama Islam dengan diiringi empat prajurit setianya (Kandaga
Lante). Setelah dari pesantren di Demak, sebelum pulang ke Sumedang ia mampir ke
Cirebon untuk bertemu dengan Panembahan Ratu penguasa Cirebon, dan disambut
dengan gembira karena mereka berdua sama-sama keturunan Sunan Gunung Jati.

Dengan sikap dan perilakunya yang sangat baik serta wajahnya yang rupawan, Prabu
Geusan Ulun disenangi oleh penduduk di Cirebon. Permaisuri Panembahan Ratu yang
bernama Ratu Harisbaya jatuh cinta kepada Prabu Geusan Ulun. Ketika dalam
perjalanan pulang ternyata tanpa sepengetahuannya, Ratu Harisbaya ikut dalam
rombongan, dam karena Ratu Harisbaya mengancam akan bunuh diri akhirnya dibawa
pulang ke Sumedang. Karena kejadian itu, Panembahan Ratu marah besar dan
mengirim pasukan untuk merebut kembali Ratu Harisbaya sehingga terjadi perang
antara Cirebon dan Sumedang.

Akhirnya Sultan Agung dari Mataram meminta kepada Panembahan Ratu untuk berdamai
dan menceraikan Ratu Harisbaya yang aslinya dari Pajang-Demak dan dinikahkan
oleh Sultan Agung dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat
Sumedang menyerahkan wilayah sebelah barat Sungai Cilutung (sekarang Majalengka)
untuk menjadi wilayah Cirebon. Karena peperangan itu pula ibukota dipindahkan ke
Gunung Rengganis, yang sekarang disebut Dayeuh Luhur.

Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri: yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng
Waru, putri Sunan Pada; yang kedua Ratu Harisbaya dari Cirebon, dan yang ketiga
Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut ia memiliki lima belas orang
anak:

Pangeran Rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati Sumedang

Raden Aria Wiraraja, di Lemahbeureum, Darmawangi

Kiyai Kadu Rangga Gede

Kiyai Rangga Patra Kalasa, di Cundukkayu

Raden Aria Rangga Pati, di Haurkuning

Raden Ngabehi Watang

Nyi Mas Demang Cipaku

Raden Ngabehi Martayuda, di Ciawi

Rd. Rangga Wiratama, di Cibeureum

Rd. Rangga Nitinagara, di Pagaden dan Pamanukan

Nyi Mas Rangga Pamade

Nyi Mas Dipati Ukur, di Bandung

Rd. Suridiwangsa, putra Ratu Harisbaya dari Panemabahan Ratu

Pangeran Tumenggung Tegalkalong

Rd. Kiyai Demang Cipaku, di Dayeuh Luhur.

Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena
selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).


[sunting] Pemerintahan di bawah Mataram

[sunting] Dipati Rangga Gempol

Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang Larang
dijadikannya wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan
statusnya sebagai 'kerajaan' dirubahnya menjadi 'kabupatian wedana'. Hal ini
dilakukannya sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai wilayah
pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda, yang sedang
mengalami konflik dengan Mataram. Sultan Agung kemudian memberikan perintah
kepada Rangga Gempol beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang,
Madura. Sedangkan pemerintahan untuk sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati
Rangga Gede.

[sunting] Dipati Rangga Gede

Ketika setengah kekuatan militer kadipaten Sumedang Larang diperintahkan pergi
ke Madura atas titah Sultan Agung, datanglah dari pasukan Kerajaan Banten untuk
menyerbu. Karena Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten, ia
akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia
menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada
Dipati Ukur.


[sunting] Dipati Ukur

Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama
pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta)
yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak
dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari
pertanggung jawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas
informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.


[sunting] Pembagian wilayah kerajaan

Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali
untuk memerintah di Sumedang. Sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan
Galuh (Ciamis), oleh Mataram dibagi menjadi tiga bagian[2]:

Kabupaten Sukapura, dipimpin oleh Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, gelar
Tumenggung Wiradegdaha/R. Wirawangsa,

Kabupaten Bandung, dipimpin oleh Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, gelar
Tumenggung Wirangun-angun,

Kabupaten Parakanmuncang, dipimpin oleh Ki Somahita Umbul Sindangkasih, gelar
Tumenggung Tanubaya.

Kesemua wilayah tersebut berada dibawah pengawasan Rangga Gede (atau Rangga
Gempol II), yang sekaligus ditunjuk Mataram sebagai Wadana Bupati (kepala para
bupati) Priangan.

[sunting] Peninggalan budaya

Hingga kini, Sumedang masih berstatus kabupaten, sebagai sisa peninggalan
konflik politik yang banyak diintervensi oleh Kerajaan Mataram pada masa itu.
Adapun artefak sejarah berupa pusaka perang, atribut kerajaan, perlengkapan raja-raja
dan naskah kuno peninggalan Kerajaan Sumedang Larang masih dapat dilihat secara
umum di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang letaknya tepat di selatan alun-alun
kota Sumedang, bersatu dengan Gedung Srimanganti dan bangunan pemerintah daerah
setempat.

[sunting] Lihat pula

Kabupaten Sumedang

Museum Prabu Geusan Ulun

[sunting] Catatan kaki

^ a b Kartadibrata, R.M. Abdullah. 1989. Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang,
Brosur. Yayasan Pangeran Sumedang, Museum Prabu Geusan Ulun. Cetakan ke-2.

^ Anonim. Tanpa tahun. Sajarah Sukapura. Pemegang naskah R. Sulaeman Anggapradja.
Kota Kulon, Garut Kota.

[sunting] Pranala luar

Naskah Kuno-Sajarah Sukapura, dari Situs Pariwisata Pemerintah Kabupaten Garut
Online


[sembunyikan] l • d • s
Kerajaan di Jawa
0-600 (Hindu-Buddha pra-Mataram) 
Salakanagara · Tarumanagara · Sunda-Galuh · Kalingga · Kanjuruhan
600-1500 (Hindu-Buddha) 
Mataram Kuno · Medang · Kahuripan · Janggala · Kadiri · Singhasari · Majapahit · Pajajaran · Blambangan
1500-sekarang (Islam) 
Demak · Pajang · Banten · Cirebon · Sumedang Larang · Mataram Islam · Kasunanan Surakarta · Kasultanan Yogyakarta · Mangkunagaran · Paku Alaman

Kategori: Kerajaan di Nusantara | Kerajaan di Jawa Barat | Kerajaan Sumedang
Larang

Halaman Pembicaraan Sunting↑ Versi terdahulu

Coba Beta Masuk log / buat akun

Pencarian

Navigasi

Halaman Utama

Perubahan terbaru

Peristiwa terkini

Halaman sembarang

Komunitas

Warung Kopi

Portal komunitas

Bantuan

wikipedia

Perihal Wikipedia

Pancapilar

Kebijakan

Menyumbang

Buat buku

Tambah halaman

Bantuan

Kotak peralatan

Pranala balik

Perubahan terkait

Halaman istimewa

Versi cetak

Pranala permanen

Kutip artikel ini

Buat PDF

Halaman ini terakhir diubah pada 12:58, 18 Mei 2009. Teks tersedia di bawah
Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin
berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. Kebijakan privasi
Perihal Wikipedia Penyangkalan
Kerajaan Sumedang Larang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan
berdiri sejak abad ke-15 Masehi di Jawa Barat, Indonesia. Popularitas kerajaan
ini tidak sebesar popularitas kerajaan Demak, Mataram, Banten dan Cirebon dalam
literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Tapi, keberadaan
kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang sangat kuat pengaruhnya dalam
penyebaran Islam di Jawa Barat, sebagaimana yang dilakukan oleh Kerajaan Cirebon
dan Kerajaan Banten.
Daftar isi [sembunyikan]

1 Sejarah

2 Asal-mula nama

3 Pemerintahan berdaulat

3.1 Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)

3.2 Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri

3.3 Prabu Geusan Ulun

4 Pemerintahan di bawah Mataram

4.1 Dipati Rangga Gempol

4.2 Dipati Rangga Gede

4.3 Dipati Ukur

5 Pembagian wilayah kerajaan

6 Peninggalan budaya

7 Lihat pula

8 Catatan kaki

9 Pranala luar 

[sunting] Sejarah

Kerajaan Sumedang Larang (kini Kabupaten Sumedang) adalah salah satu dari
berbagai kerajaan Sunda yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Terdapat
kerajaan Sunda lainnya seperti Kerajaan Pajajaran yang juga masih berkaitan erat
dengan kerajaan sebelumnya yaitu (Kerajaan Sunda-Galuh), namun keberadaan
Kerajaan Pajajaran berakhir di wilayah Pakuan, Bogor, karena serangan aliansi
kerajaan-kerajaan Cirebon, Banten dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Sumedang
Larang dianggap menjadi penerus Pajajaran dan menjadi kerajaan yang memiliki
otonomi luas untuk menentukan nasibnya sendiri.
No. Masa[1] Tahun
1 Kerajaan Sumedang Larang 900 - 1601
2 Pemerintahan Mataram II 1601 - 1706
3 Pemerintahan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) 1706 - 1811
4 Pemerintahan Inggris 1811 - 1816
5 Pemerintahan Belanda / Nederland Oost-Indie 1816 - 1942
6 Pemerintahan Jepang 1942 - 1945
7 Pemerintahan Republik Indonesia 1945 - 1947
8 Pemerintahan Republik Indonesia / Belanda 1947 - 1949
9 Pemerintahan Negara Pasundan 1949 - 1950
10 Pemerintahan Republik Indonesia 1950 - sekarang


[sunting] Asal-mula nama

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama
Hindu, yang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata
sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan
zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama
yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur)
dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Kemudian pada masa zaman
Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam,
Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku
dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang
berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada
juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya
menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.

[sunting] Pemerintahan berdaulat
No.  Nama[1] Tahun
1  Nama Raja-raja Kerajaan Sumedang Larang 
a Prabu Guru Aji Putih 900
b Prabu Agung Resi Cakrabuana / Prabu Taji Malela 950
c Prabu Gajah Agung 980
d Sunan Guling 1000
e Sunan Tuakan 1200
f Nyi Mas Ratu Patuakan 1450
g Ratu Pucuk Umun / Nyi Mas Ratu Dewi Inten Dewata 1530 - 1578
h Prabu Geusan Ulun / Pangeran Angkawijaya 1578 - 1601
2  Nama Bupati Wedana Masa Pemerintahan Mataram II 
a R. Suriadiwangsa / Pangeran Rangga Gempol I 1601 - 1625
b Pangeran Rangga Gede 1625 - 1633
c Pangeran Rangga Gempol II 1633 - 1656
d Pangeran Panembahan / Pangeran Rangga Gempol III 1656 - 1706
3  Nama Bupati Wedana Masa Pemerintahan VOC, Inggris, Belanda dan Jepang 
a Dalem Tumenggung Tanumaja 1706 - 1709
b Pangeran Karuhun 1709 - 1744
c Dalem Istri Rajaningrat 1744 - 1759
d Dalem Anom 1759 - 1761
e Dalem Adipati Surianagara 1761 - 1765
f Dalem Adipati Surialaga 1765 - 1773
g Dalem Adipati Tanubaja (Parakan Muncang) 1773 - 1775
h Dalem Adipati Patrakusumah (Parakan Muncang) 1775 - 1789
i Dalem Aria Sacapati 1789 - 1791
j Pangeran Kornel / Pangeran Kusumahdinata 1791 - 1800
k Bupati Republik Batavia Nederland 1800 - 1810
l Bupati Kerajaan Nederland, dibawah Lodewijk, Adik Napoleon Bonaparte 1805 -
1810
m Bupati Kerajaan Nederland, dibawah Kaisar Napoleon Bonaparte 1810 - 1811
n Bupati Masa Pemerintahan Inggris 1811 - 1815
o Bupati Kerajaan Nederland 1815 - 1828
p Dalem Adipati Kusumahyuda / Dalem Ageung 1828 - 1833
q Dalem Adipati Kusumahdinata / Dalem Alit 1833 - 1834
r Dalem Tumenggung Suriadilaga / Dalem Sindangraja 1834 - 1836
s Pangeran Suria Kusumah Adinata / Pangeran Soegih 1836 - 1882
t Pangeran Aria Suria Atmaja / Pangeran Mekkah 1882 - 1919
u Dalem Adipati Aria Kusumahdilaga / Dalem Bintang 1919 - 1937
v Dalem Tumenggung Aria Suria Kusumah Adinata / Dalem Aria Sumantri 1937 - 1942
w Bupati Masa Pemerintahan Jepang 1942 - 1945
x Bupati Masa Peralihan Republik Indonesia 1945 - 1946
4  Bupati Masa Pemerintahan Republik Indonesia 
a Raden Hasan Suria Sacakusumah 1946 - 1947
5  Bupati Masa Pemerintahan Belanda / Indonesia 
a Raden Tumenggung M. Singer 1947 - 1949
6  Bupati Masa Pemerintahan Negara Pasundan 
a Raden Hasan Suria Sacakusumah 1949 - 1950
7  Bupati Masa Pemerintahan Republik Indonesia 
a Radi (Sentral Organisasi Buruh Republik Indonesia) 1950
b Raden Abdurachman Kartadipura 1950 - 1951
c Sulaeman Suwita Kusumah 1951 - 1958
d Antan Sastradipura 1958 - 1960
e Muhammad Hafil 1960 - 1966
f Adang Kartaman 1966 - 1970
g Drs. Supian Iskandar 1970 - 1972
h Drs. Supian Iskandar 1972 - 1977
i Drs. Kustandi Abdurahman 1977 - 1983
j Drs. Sutarja 1983 - 1988
k Drs. Sutarja 1988 - 1993
l Drs. H. Moch. Husein Jachja Saputra 1993 - 1998
m Drs. H. Misbach 1998 - 2003
n H. Don Murdono,SH. Msi 2003 - 2008
o H. Don Murdono,SH. Msi 2008 - 2013


[sunting] Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)

Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai
pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong
Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Ia punya
tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.

Berdasarkan Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua
putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan
yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja.
Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah
harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang
Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan
kelapa muda (duwegan/degan). Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan
beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan
kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota
harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung,
menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk
sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang
diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu
Lembu Agung dan pera keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan
Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.

Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia
dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra,
pertama Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti
suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang melanjutkan
menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan Guling meninggal
kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan Tuakan. Setelah itu
kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu
Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu
Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri
bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal
menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun.

Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran
Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan
Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung
Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran
Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim.
Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang.
Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.

[sunting] Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri

Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan
Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang
kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579
M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama
serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu
dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi,
seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan
agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran
Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan
Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang
dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.

Dari pernikahan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri memiliki enam orang anak,
yaitu :

Pangeran Angkawijaya (yang tekenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun)

Kiyai Rangga Haji, yang mengalahkan Aria Kuda Panjalu ti Narimbang, supaya
memeluk agama Islam.

Kiyai Demang Watang di Walakung.

Santowaan Wirakusumah, yang keturunannya berada di Pagaden dan Pamanukan, Subang.

Santowaan Cikeruh.

Santowaan Awiluar.

Ratu Pucuk Umun dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean Gede di Kota Sumedang.

[sunting] Prabu Geusan Ulun

Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya,
Pangeran Santri. Ia menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang,
yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan,
Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan
Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang
sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada
tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga
Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan
kepemimpinannya.

Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan
sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang
dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena
penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan
Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat
prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang
dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante.
Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran,
kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger,
tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan
Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu
Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah
Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala
Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota
tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran
Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan
Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas
wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah
utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.

Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan
Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan
Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu
mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan
Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya,
banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada
Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan
bergabung dengan Kesultanan Mataram dan beliau pergi ke Demak dengan tujuan
untuk mendalami agama Islam dengan diiringi empat prajurit setianya (Kandaga
Lante). Setelah dari pesantren di Demak, sebelum pulang ke Sumedang ia mampir ke
Cirebon untuk bertemu dengan Panembahan Ratu penguasa Cirebon, dan disambut
dengan gembira karena mereka berdua sama-sama keturunan Sunan Gunung Jati.

Dengan sikap dan perilakunya yang sangat baik serta wajahnya yang rupawan, Prabu
Geusan Ulun disenangi oleh penduduk di Cirebon. Permaisuri Panembahan Ratu yang
bernama Ratu Harisbaya jatuh cinta kepada Prabu Geusan Ulun. Ketika dalam
perjalanan pulang ternyata tanpa sepengetahuannya, Ratu Harisbaya ikut dalam
rombongan, dam karena Ratu Harisbaya mengancam akan bunuh diri akhirnya dibawa
pulang ke Sumedang. Karena kejadian itu, Panembahan Ratu marah besar dan
mengirim pasukan untuk merebut kembali Ratu Harisbaya sehingga terjadi perang
antara Cirebon dan Sumedang.

Akhirnya Sultan Agung dari Mataram meminta kepada Panembahan Ratu untuk berdamai
dan menceraikan Ratu Harisbaya yang aslinya dari Pajang-Demak dan dinikahkan
oleh Sultan Agung dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat
Sumedang menyerahkan wilayah sebelah barat Sungai Cilutung (sekarang Majalengka)
untuk menjadi wilayah Cirebon. Karena peperangan itu pula ibukota dipindahkan ke
Gunung Rengganis, yang sekarang disebut Dayeuh Luhur.

Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri: yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng
Waru, putri Sunan Pada; yang kedua Ratu Harisbaya dari Cirebon, dan yang ketiga
Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut ia memiliki lima belas orang
anak:

Pangeran Rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati Sumedang

Raden Aria Wiraraja, di Lemahbeureum, Darmawangi

Kiyai Kadu Rangga Gede

Kiyai Rangga Patra Kalasa, di Cundukkayu

Raden Aria Rangga Pati, di Haurkuning

Raden Ngabehi Watang

Nyi Mas Demang Cipaku

Raden Ngabehi Martayuda, di Ciawi

Rd. Rangga Wiratama, di Cibeureum

Rd. Rangga Nitinagara, di Pagaden dan Pamanukan

Nyi Mas Rangga Pamade

Nyi Mas Dipati Ukur, di Bandung

Rd. Suridiwangsa, putra Ratu Harisbaya dari Panemabahan Ratu

Pangeran Tumenggung Tegalkalong

Rd. Kiyai Demang Cipaku, di Dayeuh Luhur.

Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena
selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).


[sunting] Pemerintahan di bawah Mataram

[sunting] Dipati Rangga Gempol

Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang Larang
dijadikannya wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan
statusnya sebagai 'kerajaan' dirubahnya menjadi 'kabupatian wedana'. Hal ini
dilakukannya sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai wilayah
pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda, yang sedang
mengalami konflik dengan Mataram. Sultan Agung kemudian memberikan perintah
kepada Rangga Gempol beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang,
Madura. Sedangkan pemerintahan untuk sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati
Rangga Gede.

[sunting] Dipati Rangga Gede

Ketika setengah kekuatan militer kadipaten Sumedang Larang diperintahkan pergi
ke Madura atas titah Sultan Agung, datanglah dari pasukan Kerajaan Banten untuk
menyerbu. Karena Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten, ia
akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia
menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada
Dipati Ukur.


[sunting] Dipati Ukur

Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama
pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta)
yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak
dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari
pertanggung jawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas
informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.


[sunting] Pembagian wilayah kerajaan

Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali
untuk memerintah di Sumedang. Sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan
Galuh (Ciamis), oleh Mataram dibagi menjadi tiga bagian[2]:

Kabupaten Sukapura, dipimpin oleh Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, gelar
Tumenggung Wiradegdaha/R. Wirawangsa,

Kabupaten Bandung, dipimpin oleh Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, gelar
Tumenggung Wirangun-angun,

Kabupaten Parakanmuncang, dipimpin oleh Ki Somahita Umbul Sindangkasih, gelar
Tumenggung Tanubaya.

Kesemua wilayah tersebut berada dibawah pengawasan Rangga Gede (atau Rangga
Gempol II), yang sekaligus ditunjuk Mataram sebagai Wadana Bupati (kepala para
bupati) Priangan.

[sunting] Peninggalan budaya

Hingga kini, Sumedang masih berstatus kabupaten, sebagai sisa peninggalan
konflik politik yang banyak diintervensi oleh Kerajaan Mataram pada masa itu.
Adapun artefak sejarah berupa pusaka perang, atribut kerajaan, perlengkapan raja-raja
dan naskah kuno peninggalan Kerajaan Sumedang Larang masih dapat dilihat secara
umum di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang letaknya tepat di selatan alun-alun
kota Sumedang, bersatu dengan Gedung Srimanganti dan bangunan pemerintah daerah
setempat.

[sunting] Lihat pula

Kabupaten Sumedang

Museum Prabu Geusan Ulun

[sunting] Catatan kaki

^ a b Kartadibrata, R.M. Abdullah. 1989. Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang,
Brosur. Yayasan Pangeran Sumedang, Museum Prabu Geusan Ulun. Cetakan ke-2.

^ Anonim. Tanpa tahun. Sajarah Sukapura. Pemegang naskah R. Sulaeman Anggapradja.
Kota Kulon, Garut Kota.

[sunting] Pranala luar

Naskah Kuno-Sajarah Sukapura, dari Situs Pariwisata Pemerintah Kabupaten Garut
Online


[sembunyikan] l • d • s
Kerajaan di Jawa
0-600 (Hindu-Buddha pra-Mataram) 
Salakanagara · Tarumanagara · Sunda-Galuh · Kalingga · Kanjuruhan
600-1500 (Hindu-Buddha) 
Mataram Kuno · Medang · Kahuripan · Janggala · Kadiri · Singhasari · Majapahit · Pajajaran · Blambangan
1500-sekarang (Islam) 
Demak · Pajang · Banten · Cirebon · Sumedang Larang · Mataram Islam · Kasunanan Surakarta · Kasultanan Yogyakarta · Mangkunagaran · Paku Alaman

Kategori: Kerajaan di Nusantara | Kerajaan di Jawa Barat | Kerajaan Sumedang
Larang

Halaman Pembicaraan Sunting↑ Versi terdahulu

Coba Beta Masuk log / buat akun

Pencarian

Navigasi

Halaman Utama

Perubahan terbaru

Peristiwa terkini

Halaman sembarang

Komunitas

Warung Kopi

Portal komunitas

Bantuan

wikipedia

Perihal Wikipedia

Pancapilar

Kebijakan

Menyumbang

Buat buku

Tambah halaman

Bantuan

Kotak peralatan

Pranala balik

Perubahan terkait

Halaman istimewa


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar